HomeBabelYusril Gelar Kendurian Idul Adha, Warga Lalang Larut dalam Kebersamaan

Yusril Gelar Kendurian Idul Adha, Warga Lalang Larut dalam Kebersamaan

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Lantunan gema takbir yang bersahut-sahutan dari pengeras suara masjid mengiringi suasana hangat di kediaman keluarga besar Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, yang berlokasi di Jalan Raya Kartini, Desa Lalang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Rabu (27/5/2026) malam.

Selepas Salat Maghrib, Yusril bersama keluarga menggelar tradisi sedekahan atau kendurian dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Kegiatan yang dihadiri warga sekitar, kerabat, sahabat lama, serta tokoh masyarakat tersebut berlangsung sederhana namun penuh makna, menghadirkan suasana kekeluargaan yang erat tanpa sekat protokoler.

Malam itu, rumah yang menjadi salah satu tempat bersejarah bagi perjalanan hidup Yusril tampak dipenuhi masyarakat yang datang silih berganti. Tidak terlihat pengamanan berlebihan ataupun pembatas yang menciptakan jarak antara pejabat negara dan warga.

Sebaliknya, suasana yang tercipta justru menunjukkan kedekatan emosional antara seorang tokoh nasional dengan lingkungan tempat ia tumbuh dan dibesarkan.

Di ruang utama rumah, Yusril terlihat duduk lesehan bersama istri dan anak-anaknya. Mereka membaur dengan warga tanpa perlakuan khusus.

Para tetangga, sahabat masa kecil, tokoh masyarakat, hingga kerabat dekat duduk berdampingan menikmati suasana malam yang sarat dengan nilai silaturahmi.

Karena tingginya antusiasme masyarakat yang hadir, kapasitas ruangan dalam rumah tidak mampu menampung seluruh tamu.

Panitia kemudian memasang tenda sederhana di bagian luar rumah sebagai tempat tambahan bagi warga yang datang. Meski berada di area terbuka, suasana tetap terasa hangat dan akrab.

Acara berlangsung sederhana namun khidmat. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan singkat dari Yusril Ihza Mahendra, dilanjutkan dengan gema takbir bersama, kemudian ditutup melalui pembacaan doa selamat yang dipimpin tokoh agama setempat.

Dalam sambutannya, Yusril menyampaikan rasa syukur karena masih dapat berkumpul bersama masyarakat Belitung Timur menjelang Hari Raya Idul Adha.

Menurutnya, tradisi kendurian merupakan bagian dari budaya masyarakat Melayu yang mengandung nilai kebersamaan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap hubungan sosial yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

“Kebersamaan seperti inilah yang harus terus kita jaga. Idul Adha mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Melalui tradisi kendurian, kita mempererat silaturahmi sekaligus mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT,” ujar Yusril.

Ucapan tersebut disambut hangat oleh para tamu yang hadir.

Bagi sebagian warga, momen tersebut menjadi kesempatan langka untuk bertemu dan berbincang langsung dengan tokoh nasional yang berasal dari Belitung Timur tersebut.

Usai pembacaan doa, suasana semakin cair ketika para tamu bergantian menyalami Yusril dan keluarganya.

Tawa ringan sesekali terdengar ketika sejumlah sahabat lama mengenang masa kecil dan pengalaman hidup yang pernah mereka lalui bersama.

Sejumlah warga mengaku terkesan dengan kesederhanaan yang ditunjukkan Yusril. Mereka menilai jabatan tinggi yang kini diemban tidak membuatnya menjaga jarak dengan masyarakat kampung halaman.

“Saya sudah mengenal beliau sejak lama. Meski sekarang menjadi pejabat negara, beliau tetap ramah dan tidak berubah. Kami merasa dihargai karena masih bisa berkumpul seperti ini,” ujar seorang warga Desa Lalang.

Tradisi kendurian sendiri memiliki akar budaya yang kuat di masyarakat Melayu Belitung.

Kegiatan tersebut biasanya digelar dalam berbagai momentum penting, mulai dari perayaan keagamaan, syukuran keluarga, hingga acara adat.

Dalam praktiknya, kendurian menjadi wadah berkumpulnya masyarakat untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus menanamkan nilai gotong royong.

Budaya ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat pesisir di Kepulauan Bangka Belitung.

Di tengah perubahan zaman dan modernisasi, tradisi seperti kendurian tetap dipertahankan karena dianggap mampu menjaga kohesi sosial masyarakat.

Para budayawan menilai tradisi tersebut memiliki nilai strategis dalam memperkuat solidaritas sosial.

Ketika masyarakat duduk bersama tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun latar belakang ekonomi, maka tercipta ruang dialog yang memperkuat rasa persaudaraan.

Dalam konteks kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi seperti kendurian menjadi pengingat penting bahwa hubungan sosial tetap menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Idul Adha yang menekankan pentingnya berbagi, berkorban, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Kehadiran Yusril di tengah masyarakat juga memberikan pesan bahwa jabatan publik tidak semestinya menjadi penghalang untuk tetap dekat dengan akar budaya dan komunitas asal.

Kedekatan seorang pemimpin dengan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kepercayaan publik.

Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan tersebut turut memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial masyarakat. Warga yang jarang bertemu dapat kembali berkumpul dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Anak-anak muda yang hadir juga memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi yang telah lama menjadi bagian dari budaya daerah. Tokoh masyarakat setempat menilai kegiatan semacam ini layak dipertahankan dan dikembangkan.

Menurut mereka, tradisi lokal memiliki peran besar dalam menjaga identitas daerah sekaligus menjadi sarana pendidikan sosial bagi generasi muda.

Momentum menjelang Idul Adha juga menjadi waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan.

Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, semangat gotong royong dan solidaritas dinilai menjadi modal penting dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana tetap tertib dan kondusif. Warga menikmati acara dengan penuh kekeluargaan hingga malam semakin larut.

Tidak sedikit tamu yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbincang santai dengan sesama warga maupun dengan Yusril dan keluarganya.

Tradisi sedekahan yang digelar di kediaman Yusril Ihza Mahendra malam itu menjadi lebih dari sekadar acara seremonial menjelang Hari Raya Idul Adha.

Kegiatan tersebut menghadirkan ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana yang hangat dan egaliter.

Di tengah dinamika kehidupan modern yang kerap menciptakan jarak sosial, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah masyarakat sesungguhnya terletak pada kemampuannya menjaga silaturahmi, menghormati tradisi, dan merawat rasa persaudaraan.

Nilai-nilai itulah yang tampak hidup di Desa Lalang malam itu, ketika gema takbir berpadu dengan senyum, tawa, dan kehangatan warga yang berkumpul menyambut Hari Raya Idul Adha. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments