HomeBisnisWacana Hadirnya Pekan Raya Manggar ; Dorongan Masyarakat Jadikan Ikon Ekonomi Berkelanjutan

Wacana Hadirnya Pekan Raya Manggar ; Dorongan Masyarakat Jadikan Ikon Ekonomi Berkelanjutan

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Gagasan untuk menghidupkan kembali Pekan Raya Manggar (PRM) sebagai agenda tahunan kembali menguat di tengah masyarakat Kabupaten Belitung Timur.

Seiring suksesnya penyelenggaraan Peresmian Ruang Publik Situ Kulong Minyak Manggar yang dirangkaikan dengan Bazar UMKM menyambut Natal dan Tahun Baru 2025/2026, muncul kesadaran kolektif bahwa daerah ini membutuhkan sebuah event ekonomi berskala besar, berjangka panjang, dan berkelanjutan sebagai penggerak utama roda perekonomian.

Salah satu suara yang cukup vokal menyuarakan gagasan tersebut datang dari Rajo Ameh, warga Belitung Timur. Ia menilai bahwa keberhasilan bazar UMKM harus dijadikan pijakan awal untuk melahirkan inovasi ekonomi yang lebih luas, terstruktur, dan memiliki kepastian hukum melalui regulasi daerah.

“Perlunya Pekan Raya Manggar dihidupkan kembali setiap tahun dan sekaligus dibuatkan Peraturan Daerah (Perda), serta dicarikan lokasi yang benar-benar representatif.

Dengan begitu, Pekan Raya Manggar bisa menjadi ikon penggerak roda ekonomi Kabupaten Belitung Timur yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan musiman,” ujar Rajo Ameh.

Menurutnya, keberadaan Perda menjadi penting agar keberlangsungan Pekan Raya Manggar tidak bergantung pada figur kepala daerah semata.

Dengan payung hukum yang kuat, kegiatan tersebut dapat terus berjalan meski terjadi pergantian kepemimpinan, serta memiliki alokasi anggaran dan konsep pengelolaan yang jelas dan profesional.

Wacana ini bukan tanpa dasar. Secara historis, Pekan Raya Manggar pernah menjadi salah satu agenda pembangunan paling bergengsi di Belitung Timur.

Pada tahun 2011, di masa kepemimpinan Bupati Basuri Tjahaja Purnama, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sukses menyelenggarakan Pameran Pembangunan Pekan Raya Manggar (PRM) yang berlangsung di kawasan Pantai Nyiur Melambai, Manggar.

PRM (Pekan Raya Manggar) Tahun 2011 secara resmi dibuka oleh Bupati Basuri Tjahaja Purnama pada Rabu, 19 Oktober 2011 lalu. Kegiatan tersebut berlangsung cukup lama dan menjadi magnet bagi masyarakat, pelaku usaha, serta instansi pemerintah.

Saat itu, PRM diikuti sebanyak 71 stand pameran yang terdiri dari 33 stand satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, dua stand Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta 36 stand dari sektor swasta.

See also  Terputus di Tengah Kemajuan, 13 Desa Blankspot di Kepahiang

Pembukaan PRM 2011 dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya Wakil Bupati Belitung Timur saat itu, Zarkani Mukri, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pejabat di lingkungan Pemkab Beltim, Tim Penggerak PKK, Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Beltim, serta Bupati Belitung Darmansyah Husein bersama istri dan tamu undangan lainnya.

Kehadiran lintas daerah ini menjadi simbol kuat bahwa Pekan Raya Manggar memiliki daya tarik regional.

Dalam sambutannya saat itu, Bupati Basuri Tjahaja Purnama bahkan menyampaikan visi besar terkait masa depan Pekan Raya Manggar. Ia berharap PRM tidak hanya menjadi agenda lokal, tetapi dapat ditingkatkan skalanya menjadi ajang nasional.

“Kita ingin ke depan nantinya Pekan Raya Manggar ini lebih ditingkatkan menjadi Pekan Raya Beltim yang berskala nasional, dengan mengundang peserta pameran dari luar daerah. Sehingga ini akan mengundang orang luar untuk datang ke Pulau Belitung,” ungkap Basuri kala itu.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal, Pekan Raya Manggar dirancang bukan sekadar pameran pembangunan, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menarik arus manusia, barang, dan modal ke Belitung Timur. Dampaknya pun dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Dengan dasar itulah, serta dengan beberapa kali pelaksanaan yang telah dilakukan, terasa denyut perekonomian bergerak cepat dan kencang.

Uang yang berada di Belitung Timur saat itu bergerak signifikan dan benar-benar memutar roda perekonomian daerah,” ujar Rajo Ameh mengenang dampak PRM di masa lalu.

Menurutnya, kehadiran peserta dari luar Pulau Belitung menjadi indikator bahwa Belitung Timur pernah memiliki pengaruh ekonomi regional.

Kondisi tersebut dinilai sangat penting untuk dihidupkan kembali, terutama di tengah tantangan ekonomi global dan kebutuhan daerah untuk mencari sumber pertumbuhan baru.

See also  Kuatkan Ekonomi ; Young Syefura Othman Bantu Mesin Chopper ke Peternak Kambing

Rajo Ameh pun mendesak agar Pemerintah Kabupaten Belitung Timur saat ini, yang dipimpin oleh Bupati Kamarudin Muten dan Wakil Bupati Khairil Anwar, dapat menemukan format terbaru Pekan Raya Manggar yang relevan dengan kondisi kekinian.

“Kami berharap pemerintah sekarang bisa menemukan format terbaru seperti Pekan Raya Manggar Belitung Timur yang pernah ada pada tahun 2011 lalu.

Karena cara itu terbukti mampu menarik pelaku ekonomi dan UMKM dari luar Belitung Timur untuk hadir dan berinvestasi, walaupun hanya selama satu bulan. Bahkan bisa menarik investor menengah untuk melihat langsung Belitung Timur dan potensinya ke depan,” terang Rajo Ameh.

Ia menilai, kehadiran investor dan pelaku ekonomi dari luar daerah, meski bersifat temporer, tetap memberikan efek domino bagi perekonomian lokal.

Perhotelan, transportasi, kuliner, hingga jasa pendukung lainnya akan ikut bergerak, menciptakan perputaran ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan kegiatan berskala kecil.

Dalam pandangannya, Pekan Raya Manggar idealnya dirancang sebagai agenda tahunan berdurasi panjang, misalnya satu bulan penuh, dengan melibatkan pihak ketiga secara profesional, sebagaimana konsep Jakarta Fair di DKI Jakarta.

Pemerintah daerah berperan sebagai regulator dan fasilitator, sementara pengelolaan teknis dilakukan oleh promotor berpengalaman.

Namun demikian, Rajo Ameh juga menekankan bahwa bazar UMKM tetap memiliki peran penting dan tidak harus ditinggalkan. Ia justru mendorong adanya diferensiasi skala dan fungsi antara bazar dan pekan raya.

“Bazar tetap kita laksanakan di saat acara-acara tertentu sebagai pendamping kegiatan lainnya. Dengan begitu, pelaku usaha kelas menengah ke bawah dengan berbagai produk andalan mereka tetap bisa tampil, dengan skala yang berbeda dan lebih terjangkau bagi mereka,” tuturnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur sendiri baru saja mencatatkan keberhasilan melalui Peresmian Ruang Publik Situ Kulong Minyak Manggar yang dirangkaikan dengan Bazar UMKM akhir tahun 2025.

Kegiatan yang berlangsung sejak 25 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

See also  Social Media Marketing for Franchises is Meant for Women

Sebanyak 86 pelaku UMKM dari Belitung Timur dan sekitarnya ambil bagian dalam bazar tersebut dengan menempati 44 gerai tenda. Produk yang dipamerkan pun beragam, mulai dari kuliner lokal, kerajinan tangan, hingga produk kreatif lainnya.

Kawasan Situ Kulong Minyak pun berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten, menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung penguatan UMKM melalui penyediaan ruang promosi dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

“Melalui Bazar UMKM Akhir Tahun 2025 ini, kawasan Situ Kulong Minyak telah menjadi pusat aktivitas UMKM dan penggerak ekonomi masyarakat,” ujar Kamarudin.

Ia juga mengajak seluruh perangkat daerah untuk memperkuat dukungan terhadap UMKM secara konsisten dan berkesinambungan, serta mendorong pelaku usaha agar terus berinovasi dan menjaga kualitas produk.

Dari perspektif investigatif dan konstruktif, keberhasilan bazar UMKM dan munculnya kembali wacana Pekan Raya Manggar menunjukkan bahwa Belitung Timur memiliki modal sosial dan pengalaman historis yang kuat dalam mengelola event ekonomi.

Tantangannya kini terletak pada keberanian mengambil keputusan strategis, menyusun regulasi yang tepat, serta memastikan keberlanjutan program.

Menghidupkan kembali Pekan Raya Manggar dengan dukungan Perda, lokasi yang representatif, dan manajemen profesional bukan hanya soal nostalgia, tetapi strategi pembangunan ekonomi jangka panjang.

Jika dirancang dengan matang, Pekan Raya Manggar berpotensi menjadi ikon baru Belitung Timur—sebuah etalase potensi daerah yang mampu menarik wisatawan, pelaku usaha, dan investor, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Dari bazar UMKM hingga wacana Pekan Raya Manggar, satu benang merah tampak jelas: Belitung Timur memiliki peluang besar untuk bangkit melalui inovasi ekonomi berbasis kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

Kini, harapan itu menunggu untuk diwujudkan dalam kebijakan nyata. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments