HomeBabelPariwisata Tanpa Jiwa? Rajo Ameh ; Perlu Dibangun Kampung Seni & Budaya

Pariwisata Tanpa Jiwa? Rajo Ameh ; Perlu Dibangun Kampung Seni & Budaya

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Di tengah upaya pemerintah mendorong sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi daerah, sebuah suara kritis sekaligus konstruktif datang dari Rajo Ameh, CEO Aktivis Untuk Kemajuan Bangka Belitung (AUKBABEL).

Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Tanjungpandan, tepatnya di ruang komunitas kreatif KV Senang, ia menyampaikan pandangan tajam namun reflektif: pariwisata tidak akan pernah benar-benar maju tanpa ditopang oleh seni dan budaya yang hidup.

Pernyataan tersebut bukan sekadar opini, melainkan hasil pengamatan panjang seorang aktivis yang juga pernah berkecimpung sebagai jurnalis di media regional.

Dengan latar belakang yang unik—berdarah Minang dari sang ibu dan keturunan peranakan Bombay India dari ayahnya—Rajo Ameh membawa perspektif lintas budaya dalam melihat potensi dan tantangan daerah.

Menurutnya, salah satu indikator utama kemajuan pariwisata suatu daerah adalah berkembangnya seni dan budaya lokal.

Jika seni dan budaya masih stagnan, maka pariwisata pun akan berjalan di tempat. “Pariwisata tanpa seni dan budaya itu ibarat sayur tanpa garam,” tegasnya dalam diskusi tersebut.

Pernyataan ini menjadi refleksi penting, terutama bagi daerah-daerah yang selama ini mengandalkan keindahan alam semata sebagai daya tarik wisata.

Dalam konteks nasional, Indonesia memang dikenal memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, pengalaman wisata yang berkesan tidak hanya dibentuk oleh lanskap, tetapi juga oleh interaksi budaya yang autentik.

Rajo Ameh kemudian mengajak untuk melihat contoh konkret dari daerah lain yang telah berhasil mengintegrasikan seni, budaya, dan pariwisata secara harmonis. Salah satunya adalah Bali, yang sering disebut sebagai Pulau Dewata.

Bali tidak hanya menawarkan pantai dan pemandangan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Tarian tradisional, upacara adat, seni ukir, hingga musik gamelan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata. Inilah yang membuat Bali memiliki “cita rasa” tersendiri di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.

See also  Kajari Beltim Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1447H, Rajut Harmoni & Kuatkan Integritas

Hal serupa juga terlihat di Sumatera Barat. Daerah ini tidak hanya dianugerahi keindahan alam berupa perbukitan dan lembah yang memukau, tetapi juga memiliki tradisi dan budaya yang kuat.

Rumah gadang, tari piring, randai, serta kuliner khas menjadi identitas yang memperkaya daya tarik wisata.

Menurut Rajo Ameh, keberhasilan kedua daerah tersebut bukanlah kebetulan. Ia merupakan hasil dari kesadaran kolektif untuk menjaga dan mengembangkan budaya sebagai bagian integral dari pembangunan daerah.

Sementara itu, di DKI Jakarta, pendekatan yang diambil sedikit berbeda namun tetap relevan.

Pemerintah daerah secara aktif membangun kampung seni dan kampung budaya sebagai ruang ekspresi bagi seniman lokal. Kampung-kampung ini tidak hanya menjadi tempat pelestarian budaya, tetapi juga destinasi wisata yang edukatif dan interaktif.

Model ini, menurut Rajo Ameh, dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain, termasuk Pulau Belitung.

Ia menilai bahwa Belitung memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan, namun masih membutuhkan penguatan di sektor seni dan budaya.

Pulau Belitung sendiri terdiri dari dua wilayah administratif utama, yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Kedua kabupaten ini memiliki karakter budaya yang khas dan berbeda, yang seharusnya dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik.

Rajo Ameh mengusulkan agar pemerintah daerah di kedua kabupaten tersebut segera mendirikan kampung seni dan kampung budaya. Tempat ini nantinya dapat menjadi pusat aktivitas budaya, di mana berbagai kesenian lokal ditampilkan secara rutin.

Lebih dari itu, kampung seni juga dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para seniman, koreografer, musisi, dan pelaku budaya lainnya. Di sinilah inovasi dapat tumbuh, menciptakan karya-karya baru yang tetap berakar pada tradisi.

Dalam perspektif edukatif, keberadaan kampung seni juga memiliki nilai strategis. Ia dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya lokal mereka.

See also  Tari Campak ; Harmoni Budaya Menyatukan Sejarah & Masa Depan

Di tengah gempuran budaya global, upaya ini menjadi sangat penting untuk menjaga identitas.

Tidak hanya itu, kampung budaya juga dapat menjadi pusat ekonomi kreatif. Produk-produk kerajinan, kuliner khas, hingga pertunjukan seni dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat lokal.

Dengan demikian, pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi secara makro, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat.

Namun, membangun kampung seni bukanlah sekadar proyek fisik. Ia membutuhkan perencanaan yang matang, keterlibatan masyarakat, serta komitmen jangka panjang dari pemerintah. Tanpa itu, kampung seni berisiko menjadi sekadar simbol tanpa aktivitas.

Rajo Ameh menekankan pentingnya peran komunitas dalam menghidupkan ruang-ruang budaya tersebut. Pemerintah dapat menyediakan fasilitas, tetapi yang mengisi adalah masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, pemberdayaan komunitas menjadi kunci utama keberhasilan.

Selain itu, kolaborasi dengan sektor swasta dan akademisi juga perlu didorong. Perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan budaya, sementara sektor swasta dapat membantu dalam aspek pendanaan dan promosi.

Di era digital, promosi pariwisata juga tidak bisa dilepaskan dari teknologi. Kampung seni dapat dikemas secara menarik melalui media sosial, video kreatif, dan platform digital lainnya.

Dengan strategi yang tepat, Belitung dapat dikenal tidak hanya karena pantainya, tetapi juga karena kekayaan budayanya.

Lebih jauh lagi, pengembangan seni dan budaya juga dapat memperkuat identitas daerah. Di tengah persaingan antar destinasi wisata, identitas menjadi faktor pembeda yang sangat penting.

Wisatawan tidak hanya mencari tempat, tetapi juga pengalaman yang unik dan berkesan.

Dalam konteks ini, Belitung memiliki peluang besar. Dengan sejarah, tradisi, dan keberagaman budaya yang dimiliki, pulau ini dapat menawarkan pengalaman wisata yang autentik dan berbeda dari daerah lain.

See also  Sapu Bersih Timah Ilegal, Selamatkan Kekayaan Bangsa dari Hulu ke Hilir

Namun, peluang ini hanya dapat terwujud jika ada kesadaran dan komitmen bersama. Pernyataan Rajo Ameh seharusnya tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga menjadi pemicu aksi nyata.

Pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret, mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga implementasi program. Di sisi lain, masyarakat juga perlu aktif terlibat dan mendukung upaya pelestarian budaya.

Media massa dan komunitas kreatif juga memiliki peran penting dalam menyebarkan narasi positif tentang budaya lokal. Dengan demikian, kesadaran publik dapat meningkat dan dukungan terhadap pengembangan seni dan budaya semakin kuat.

Pada akhirnya, pembangunan pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kekuatan budaya. Seni dan budaya adalah jiwa dari sebuah daerah—tanpa itu, pariwisata hanya menjadi aktivitas konsumsi tanpa makna.

Apa yang disampaikan Rajo Ameh adalah pengingat bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan identitas. Justru, dengan memperkuat budaya lokal, sebuah daerah dapat melangkah lebih jauh dan lebih kokoh.

Belitung memiliki semua modal yang dibutuhkan: keindahan alam, kekayaan budaya, dan masyarakat yang kreatif. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk berinovasi dan komitmen untuk bertindak.

Jika kampung seni dan kampung budaya benar-benar terwujud dan dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin Belitung akan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia—bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan budayanya.

Dan ketika hari itu tiba, maka ungkapan “sayur tanpa garam” tidak lagi relevan. Sebaliknya, Belitung akan menjadi hidangan lengkap—kaya rasa, penuh warna, dan tak terlupakan. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments