HomeRagamKabinet Parlemen PolitikYIM ; Masa Depan Ditentukan Kualitas Manusia, Bukan Sekadar Teknologi

YIM ; Masa Depan Ditentukan Kualitas Manusia, Bukan Sekadar Teknologi

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan, satu pesan tegas disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (YIM).

Dalam orasi ilmiah di Universitas YARSI, ia mengingatkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, melainkan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika akademik. Ia menjadi refleksi kritis atas arah pendidikan tinggi di Indonesia yang tengah menghadapi tekanan besar dari perubahan global—mulai dari Revolusi Industri 4.0 hingga ledakan penggunaan kecerdasan buatan.

Antara Teknologi dan Kemanusiaan

Di hadapan para wisudawan, dosen, dan sivitas akademika, Yusril menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada penguasaan teknologi semata.

Perguruan tinggi, menurutnya, harus melahirkan manusia yang berpikir kritis, berintegritas, dan memiliki tanggung jawab sosial.

“Masa depan bukan hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan oleh mutu manusia yang menggunakannya,” tegasnya.

Pesan ini relevan di tengah realitas saat ini, di mana teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengelolanya secara bijak. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi tidak semua informasi membawa kebenaran.

Tantangan Baru ; Banjir Informasi

Yusril menggarisbawahi bahwa tantangan utama era digital bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan kemampuan untuk memilah dan menilai kebenaran di tengah banjir data.

Fenomena disinformasi, hoaks, dan manipulasi digital menjadi ancaman nyata bagi masyarakat. Dalam konteks ini, peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis.

Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu. Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter intelektual—tempat mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis, mempertanyakan, dan mengambil keputusan berdasarkan analisis yang matang.

Tiga Dimensi Transformasi Pendidikan

Dalam orasinya, Yusril memaparkan bahwa transformasi pendidikan tinggi harus berjalan dalam tiga dimensi utama: epistemik, etik, dan kebangsaan.

See also  Iran ; Klaim Perpecahan Dibantah, Waspada Perang Psikologis

Pertama, dimensi epistemik.
Mahasiswa harus dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif. Dunia kerja saat ini tidak lagi statis. Profesi berubah, kebutuhan bergeser, dan kompetensi yang relevan hari ini bisa menjadi usang dalam waktu singkat.

Karena itu, kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi kunci. Perguruan tinggi harus melahirkan lulusan yang tidak hanya pintar, tetapi juga mampu terus berkembang.

Kedua, dimensi etik.
Kemajuan teknologi membawa konsekuensi moral. Penggunaan kecerdasan buatan, misalnya, membuka peluang besar, tetapi juga risiko penyalahgunaan, bias algoritma, hingga pelanggaran privasi.

Yusril mengingatkan bahwa tanpa landasan etika yang kuat, teknologi dapat menjadi alat yang merugikan manusia. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus menanamkan nilai-nilai moral yang kokoh.

Ketiga, dimensi kebangsaan.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terlepas dari kepentingan nasional. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, hal ini mencakup isu-isu seperti ketimpangan sosial, akses pendidikan, hingga penguatan sistem hukum. Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menara gading.

Pendidikan dan Negara Hukum

Yusril juga menyoroti keterkaitan antara pendidikan tinggi dan pembangunan negara hukum yang beradab. Ia menilai bahwa kualitas hukum tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankannya.

Lulusan perguruan tinggi, khususnya di bidang hukum, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keadilan dan integritas sistem.

Dalam pandangannya, pendidikan tinggi harus mampu melahirkan profesional yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Pesan untuk Wisudawan

Di momen kelulusan yang penuh haru, Yusril menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam: jangan berhenti belajar, jaga integritas, dan gunakan teknologi secara bijak.

See also  Di Ambang Strategi Global ; Ketegangan AS-Iran, Pelajaran bagi Dunia

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan profesional tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari cara seseorang menggunakan keahliannya.

“Keahlian tanpa integritas bisa menjadi masalah, bukan solusi,” menjadi pesan implisit yang kuat dalam orasi tersebut.

Bagi para wisudawan, dunia di luar kampus adalah ruang yang penuh tantangan. Namun, dengan bekal yang tepat, mereka juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi.

Relevansi bagi Indonesia

Apa yang disampaikan Yusril tidak hanya relevan bagi Universitas YARSI, tetapi juga bagi seluruh sistem pendidikan tinggi di Indonesia.

Di tengah upaya pemerintah mendorong transformasi digital, penting untuk memastikan bahwa pembangunan sumber daya manusia berjalan seiring. Teknologi tanpa manusia yang berkualitas hanya akan menciptakan kesenjangan baru.

Sebaliknya, manusia yang berkualitas dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi inovatif bagi berbagai persoalan bangsa.

Peran Kampus di Era Baru

Perguruan tinggi kini dituntut untuk lebih adaptif dan responsif. Kurikulum harus diperbarui, metode pembelajaran harus inovatif, dan kolaborasi dengan dunia industri perlu diperkuat.

Namun, di tengah semua itu, nilai-nilai dasar pendidikan tidak boleh hilang. Kampus harus tetap menjadi tempat pembentukan karakter, bukan sekadar pusat produksi tenaga kerja.

Yusril mengingatkan bahwa kualitas perguruan tinggi pada akhirnya ditentukan oleh manusia yang dihasilkannya.

Menatap Masa Depan

Menutup orasinya, Yusril menyampaikan harapan agar lulusan Universitas YARSI mampu menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia menekankan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda yang saat ini duduk di bangku perguruan tinggi.

Dengan bekal ilmu, integritas, dan semangat kebangsaan, mereka diharapkan mampu menghadapi tantangan global sekaligus menjaga nilai-nilai lokal.

See also  Patroli Humanis Ops Ketupat Menumbing 2026 Wujudkan Lebaran Aman & Bermakna

Manusia sebagai Pusat Peradaban

Di era di mana teknologi sering dianggap sebagai pusat kemajuan, pesan Yusril menjadi pengingat penting: manusia tetaplah aktor utama dalam peradaban.

Teknologi hanyalah alat. Nilai, arah, dan dampaknya ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.

Dari ruang auditorium Universitas YARSI, pesan itu bergema—bahwa masa depan bukan tentang siapa yang paling canggih, tetapi siapa yang paling bijak.

Dan di tangan generasi muda, harapan itu kini dititipkan. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments