HomeBabelSeminar PGRI Beltim Perkuat Pendidikan Karakter Generasi Emas

Seminar PGRI Beltim Perkuat Pendidikan Karakter Generasi Emas

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Belitung Timur kembali menegaskan komitmennya memperkuat kualitas pendidikan karakter di tengah tantangan perubahan zaman melalui Seminar Pendidikan Karakter PGRI Kabupaten Beltim Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Zahari MZ, Selasa (12/5/2026) pagi.

Kegiatan yang diikuti sekitar 750 peserta, terdiri dari 725 guru secara luring dan 25 peserta daring dari berbagai jenjang pendidikan itu menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Miranda, Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur Yogyakarta Sulasmi, serta Kepala SMA Negeri 1 Manggar Sabarudin.

Seminar tersebut mengangkat tema “Optimalisasi Pendidikan Karakter untuk Membentuk Generasi Unggul dan Berprestasi” sebagai respons atas keresahan dunia pendidikan terhadap menurunnya kualitas karakter dan adab generasi muda.

Sejak pagi, ratusan guru dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga SMK memenuhi auditorium dengan antusiasme tinggi.

Suasana seminar berlangsung hidup ketika para peserta mengikuti materi, diskusi, hingga sesi berbagi pengalaman dari para pemateri yang dinilai memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan pendidikan karakter.

Ketua PGRI Belitung Timur, Bambang Sutrisno, mengatakan seminar tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi profesi guru, melainkan bagian dari ikhtiar bersama membangun fondasi moral generasi muda di tengah derasnya arus perubahan sosial dan teknologi.

Menurut Bambang, persoalan karakter pelajar saat ini menjadi perhatian serius para tenaga pendidik. Ia menilai dunia pendidikan tidak bisa hanya fokus mengejar capaian akademik semata tanpa memperhatikan pembentukan kepribadian peserta didik.

“Karena kondisi pendidikan kita saat ini, anak-anak muda kita ternyata adab ataupun karakternya masih kurang maksimal untuk ditingkatkan.

Nah ini menjadi keresahan kami, keresahan guru-guru di Belitung Timur bahkan Indonesia,” ujar Bambang di sela kegiatan seminar.

Ia menegaskan bahwa tantangan pendidikan hari ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Perkembangan teknologi digital, media sosial, hingga perubahan pola interaksi sosial dinilai memberi dampak besar terhadap pola pikir dan perilaku anak-anak muda.

See also  Fery & Syahbudin Dilantik, Gubernur Babel Serukan Kolaborasi untuk Membangun Daerah

Karena itu, kata dia, guru dituntut tidak hanya menjadi pengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi pembimbing moral dan teladan bagi peserta didik.

“Harapan kami bagaimana cara terbaik menanamkan karakter supaya mereka bisa menjadi generasi terbaik nantinya, generasi emas 2045 yang mampu memberikan sumbangsih bagi perkembangan Indonesia ke depannya,” katanya.

Bambang menjelaskan pemilihan tema pendidikan karakter dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata yang dihadapi sekolah-sekolah saat ini.

Fenomena menurunnya disiplin siswa, lemahnya etika berkomunikasi, hingga meningkatnya pengaruh negatif dunia digital menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, pendidikan karakter harus dibangun secara kolektif melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

“Kalau hanya guru yang bergerak, tentu hasilnya tidak maksimal. Pendidikan karakter harus menjadi gerakan bersama,” ujarnya.

Dalam seminar tersebut, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Miranda turut memberikan materi terkait pentingnya membangun karakter generasi muda sejak dini.

Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual tidak akan cukup tanpa dibarengi integritas, disiplin, tanggung jawab, dan moral yang kuat.

Menurutnya, tantangan generasi muda ke depan semakin berat karena harus menghadapi perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga ancaman degradasi moral akibat pengaruh lingkungan digital yang tidak terkendali.

“Pendidikan sejati bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun sikap, moral, disiplin, dan tanggung jawab untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Murry Miranda dalam paparannya.

Ia menyebut guru memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam membentuk kepribadian generasi bangsa. Karena itu, peningkatan kualitas guru harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai karakter di lingkungan pendidikan.

Menurut Murry, pendidikan karakter yang kuat akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjaga etika, menghormati sesama, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

See also  Rudianto Tjen ; Saat Tradisi Menyatukan Keluarga & Bangsa

“Guru hebat melahirkan generasi hebat,” katanya disambut tepuk tangan peserta seminar.

Selain Brigjen Pol Murry Miranda, seminar juga menghadirkan Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur Yogyakarta, Sulasmi, yang dikenal sukses membawa sekolahnya meraih ribuan prestasi nasional dan internasional.

Dalam pemaparannya, Sulasmi menjelaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan kemampuan akademik siswa, tetapi juga budaya sekolah yang kuat dalam membentuk karakter.

Ia berbagi pengalaman bagaimana sekolahnya membangun kebiasaan positif sejak dini, mulai dari budaya disiplin, literasi, tanggung jawab, hingga pembiasaan sikap santun dalam kehidupan sehari-hari.

“Prestasi itu lahir dari karakter yang dibangun secara konsisten. Anak-anak harus dibiasakan untuk jujur, disiplin, percaya diri, dan memiliki empati sejak kecil,” ujarnya.

Menurut Sulasmi, pendidikan karakter tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan konsistensi, keteladanan guru, serta keterlibatan aktif orang tua agar nilai-nilai positif benar-benar tertanam dalam diri anak.

Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan agar siswa dapat tumbuh secara optimal baik secara akademik maupun emosional.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Manggar, Sabarudin, menyoroti tantangan dunia pendidikan di daerah yang harus mampu bersaing di tengah perkembangan global.

Menurutnya, penguatan karakter menjadi modal utama agar siswa memiliki daya tahan menghadapi perubahan zaman.

Ia mengatakan generasi muda saat ini hidup dalam era keterbukaan informasi yang sangat cepat. Tanpa pondasi karakter yang kuat, siswa rentan terpengaruh hal-hal negatif yang beredar di media sosial maupun lingkungan pergaulan.

“Karakter itu benteng utama. Kalau anak-anak punya karakter kuat, mereka tidak mudah terpengaruh hal-hal yang merusak masa depan,” katanya.

Seminar tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi para guru terhadap peran penting pendidikan dalam membentuk masa depan daerah.

See also  Spirit Idulfitri & Keteladanan, Wakapolda Babel Ucapkan Selamat IdulFitri 1447H

Belitung Timur yang dikenal sebagai daerah dengan semangat pendidikan kuat sejak era Laskar Pelangi dinilai memiliki tanggung jawab besar menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing secara nasional maupun internasional.

Sejumlah peserta seminar mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari materi yang disampaikan para narasumber. Mereka menilai penguatan pendidikan karakter memang menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan perilaku generasi muda saat ini.

Salah seorang guru peserta seminar, Nuraini, mengatakan kegiatan seperti itu sangat penting untuk memperkuat motivasi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan modern.

“Kami jadi lebih semangat dan punya banyak wawasan baru bagaimana mendidik anak-anak bukan hanya pintar pelajaran, tetapi juga punya sikap yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, guru saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding masa lalu. Selain mengajar, guru juga harus mampu menjadi pendamping psikologis bagi siswa yang hidup di tengah tekanan media sosial dan perkembangan teknologi digital.

Seminar Pendidikan Karakter PGRI Beltim 2026 sekaligus menjadi penegasan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari pembentukan moral dan kepribadian generasi muda.

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, pendidikan karakter dinilai menjadi pondasi utama agar generasi mendatang tetap memiliki identitas, etika, dan tanggung jawab sosial.

Bagi Belitung Timur, penguatan pendidikan karakter bukan sekadar program seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi emas Indonesia 2045.

Ketika sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat mampu berjalan bersama, maka pendidikan tidak hanya melahirkan anak-anak berprestasi, tetapi juga generasi yang berintegritas dan siap membawa daerah maupun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments