HomeBabelRajo Ameh : Kemerdekaan Harus Mengantar Indonesia Emas 2045

Rajo Ameh : Kemerdekaan Harus Mengantar Indonesia Emas 2045

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Belitung Timur, Alizar Tanjung BSc, M.I.St. Rajo Ameh yang dikenal dengan sapaan Rajo Ameh, menilai makna kemerdekaan Indonesia pada momentum menuju 100 tahun kemerdekaan pada 2045 harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata untuk menghadirkan negara yang maju, mandiri, berdaulat, adil, dan makmur.

Menurut pria alumni Sekolah Tinggi Teknologi Industri [ STTI ] Aprin Palembang Jurusan Teknik Management Industri itu, mengatakan kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai perayaan seremonial, tetapi harus menjadi tekad bersama untuk memastikan kesejahteraan, kesempatan yang setara, dan kepastian hukum benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Pernyataan tersebut disampaikan Rajo Ameh dalam melihat perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Baginya, satu abad Indonesia merdeka merupakan momentum strategis untuk mengevaluasi sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan sekaligus menentukan arah pembangunan bangsa untuk generasi mendatang.

“Makna kemerdekaan hari ini adalah bagaimana kita mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. Kita harus memastikan bahwa kemerdekaan memberikan manfaat bagi seluruh rakyat, bukan hanya menjadi seremoni yang berulang setiap tahun,” demikian Rajo Ameh sang Insiator & Motivator pembentukan DPD IKM Kabupaten Belitung Timur Tahun 2024 yang pertama kali untuk Belitung Timur.

Masih menurut pria yang pernah menjadi Human Resources & General Affairs Manager di Lomasasta Group, sebuah perusahaan holding yang juga membawahi maskapai Sriwijaya Air & Nam Air serta beberapa perusahaan smelther tambang timah mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju.

Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, posisi geografis strategis, serta potensi generasi muda merupakan kekuatan yang harus dikelola secara serius dan bertanggung jawab.

Namun, kekuatan tersebut tidak akan otomatis membawa Indonesia menjadi negara maju apabila masih terdapat ketimpangan, kemiskinan, keterbatasan pendidikan, ketidakadilan hukum, dan kesenjangan pembangunan antardaerah.

Karena itu, Rajo Ameh yang sekarang menjadi Direktur Eksekutif Pinang Merah Indonesia ; memandang kemerdekaan harus dimaknai sebagai proses panjang untuk membebaskan masyarakat dari berbagai persoalan yang menghambat kemajuan.

See also  Jelang Idul Fitri, Satgas Ketupat Menumbing 2026 Jaga Stabilitas Pangan & Rasa Aman

Kemiskinan, kebodohan, diskriminasi, kesenjangan ekonomi, dan ketidakmerataan pembangunan harus menjadi agenda bersama yang diselesaikan secara bertahap dan terukur.

Lebih dari itu, pria berdarah campuran Pariaman & Solok ini juga menegaskan bahwa masyarakat Indonesia harus memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang, baik mereka yang tinggal di pusat pemerintahan maupun di daerah-daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi.

Dalam konteks pembangunan daerah, pandangan tersebut menjadi relevan bagi Kabupaten Belitung Timur. Kemajuan daerah tidak cukup diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

“Indonesia maju harus dimulai dari daerah yang maju. Masyarakat di daerah harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan, pekerjaan yang layak, serta akses terhadap ekonomi,” menjadi prinsip yang ditekankan Rajo Ameh yang sekarang juga memimpin group perusahaan media diantaranya JSCgroupmedia, ArtaSariMediaGroup & IndriMediaNewsGroup.

Kembali, mantan Wartawan Babelpos Jawapos Group di era tahun 2000an ini menegaskan, menurutnya salah satu fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045 adalah pembangunan sumber daya manusia.

Generasi muda harus dipersiapkan agar memiliki kecerdasan, kesehatan, karakter, kreativitas, kemampuan teknologi, dan daya saing global.

Pendidikan, kata dia, tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Sekolah dan lingkungan pendidikan harus mampu membentuk generasi yang memiliki integritas, disiplin, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian berinovasi.

Generasi muda juga harus diberi ruang untuk berkembang. Pemerintah bersama masyarakat dan dunia usaha perlu menciptakan ekosistem yang memungkinkan anak-anak Indonesia belajar, berkarya, berwirausaha, mengembangkan teknologi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Rajo Ameh berharap di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai ditumbuhkembangkan berbagai sektor kehidupan, serta ia juga menilai investasi terbesar Indonesia sebenarnya bukan hanya pada infrastruktur, melainkan pada manusia.

Jalan, jembatan, pelabuhan, kawasan industri, dan fasilitas publik memang penting, tetapi seluruh pembangunan tersebut membutuhkan manusia berkualitas agar dapat memberikan manfaat maksimal.

Pilar berikutnya adalah kemandirian ekonomi. Indonesia, menurut pemilik 45 media online yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia ini mengatakan, kita harus memiliki kemampuan mengelola kekuatan ekonominya sendiri dengan tetap terbuka terhadap kerja sama internasional yang menguntungkan kepentingan nasional.

See also  Diskominfo Belitung Gandeng Mahasiswa Perkuat Literasi Digital Publik

Kedaulatan pangan dan energi juga harus menjadi perhatian.

Ketergantungan yang berlebihan terhadap pihak luar dapat menjadi persoalan ketika terjadi gejolak global. Karena itu, penguatan produksi dalam negeri, peningkatan produktivitas petani dan nelayan, pengembangan energi, serta hilirisasi sumber daya alam harus dilakukan secara konsisten.

Namun, Rajo Ameh mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan. Kekayaan alam Indonesia harus memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah tempat sumber daya tersebut berada.

CEO AUKBABEL [ Aktivis Untuk Kemajuan Bangka Belitung ] ini menilai pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi, sementara masyarakat di sekitar kawasan sumber daya masih menghadapi keterbatasan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Prinsip tersebut sekaligus berkaitan dengan pemberantasan korupsi. Menurutnya, pembangunan Indonesia Emas 2045 membutuhkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, profesional, dan bertanggung jawab.

Korupsi bukan hanya persoalan hilangnya uang negara. Praktik tersebut juga dapat mengurangi kualitas pelayanan publik, memperlebar ketimpangan, menghambat investasi, serta menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Karena itu, penegakan hukum menjadi bagian penting dari makna kemerdekaan. Masyarakat harus mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, jabatan, maupun kelompok.

Hukum yang adil, menurut Rajo Ameh, merupakan salah satu tanda bahwa negara benar-benar hadir untuk rakyat. Masyarakat harus merasa aman menyampaikan aspirasi, memperoleh pelayanan, menjalankan usaha, dan memperjuangkan haknya melalui mekanisme hukum yang tersedia.

“Negara harus hadir memberikan rasa aman dan keadilan. Hukum tidak boleh kehilangan wibawa dan tidak boleh dipandang hanya tajam kepada masyarakat kecil,” menjadi pesan yang sejalan dengan pandangannya mengenai kemerdekaan dan keadilan sosial.

Di sisi lain, pembangunan yang merata juga membutuhkan kolaborasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas, akademisi, pemuda, serta masyarakat harus memiliki ruang untuk berkontribusi.

See also  Maras Taun ; Menjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Rajo Ameh melihat Indonesia Emas 2045 bukan proyek satu pemerintahan atau satu kelompok politik. Target tersebut merupakan agenda kebangsaan yang melampaui pergantian kepemimpinan.

Karena itu, kesinambungan pembangunan menjadi penting. Program yang baik harus dilanjutkan, sementara kebijakan yang terbukti tidak efektif perlu diperbaiki berdasarkan evaluasi dan data.

Menurutnya, perbedaan politik tidak seharusnya menghalangi kepentingan yang lebih besar, yakni memastikan Indonesia memiliki fondasi kuat ketika memasuki usia 100 tahun kemerdekaan.

Momentum menuju 2045 juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat karakter kebangsaan. Kemajuan teknologi dan ekonomi tanpa karakter dapat menimbulkan persoalan baru. Generasi muda harus tetap memiliki rasa tanggung jawab, gotong royong, toleransi, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.

Bagi Rajo Ameh sang Insiator Organisasi Gebu Minang Belitung Timur, kemerdekaan merupakan amanah sejarah. Para pendiri bangsa telah mewariskan negara kepada generasi sekarang, sementara generasi sekarang memiliki kewajiban untuk menyerahkannya kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih baik.

Karena itu, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya menjadi slogan. Ia harus diterjemahkan melalui indikator yang dapat dirasakan masyarakat: pendidikan yang semakin berkualitas, kesehatan yang semakin mudah diakses, ekonomi yang semakin kuat, lapangan pekerjaan yang semakin luas, hukum yang semakin adil, serta pembangunan yang semakin merata.

Dari Belitung Timur, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa cita-cita Indonesia Emas bukan hanya milik pemerintah pusat atau daerah tertentu. Setiap wilayah memiliki peran dalam membangun masa depan Indonesia.

Pada akhirnya, kemerdekaan menurut Rajo Ameh adalah keberanian untuk terus memperbaiki bangsa. Merdeka berarti masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup layak, memperoleh pendidikan, bekerja dengan bermartabat, mendapatkan perlindungan hukum, serta menikmati hasil pembangunan secara adil.

Menuju 2045, ukuran kemerdekaan bukan seberapa meriah kita merayakannya, melainkan seberapa nyata rakyat merasakan hasil perjuangan 100 tahun Indonesia merdeka. [ Oleh ; Alizar Tanjung BSc Mi St. Rajo Ameh ~ Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Belitung Timur ]

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments