HomeGeoParkPunen Pulagajat Matotonan, Menjaga Sikerei di Tengah Zaman

Punen Pulagajat Matotonan, Menjaga Sikerei di Tengah Zaman

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ mengangkat sisi budaya, regenerasi sikerei, tantangan ekonomi, kesehatan, serta tanggung jawab pemerintah secara kritis namun tetap berimbang.

Namun, Jumat malam itu bukan sekadar pertunjukan budaya.

Amirudin sedang berada di ambang sebuah tanggung jawab besar: ditasbihkan menjadi sikerei baru dari Uma Satoutou, Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Prosesi tersebut menjadi bagian dari Punen Pulagajat, rangkaian perayaan ulang tahun ke-46 Desa Matotonan yang berlangsung pada 10–23 Agustus 2026.

Penobatan Amirudin sekaligus memperlihatkan satu persoalan penting yang sedang dihadapi masyarakat Mentawai: bagaimana memastikan pengetahuan dan peran sikerei tidak berhenti pada generasi tua.

Saat ditemui pada Kamis siang (20/8/2026), Amirudin belum sepenuhnya berstatus sikerei. Gelang rotan atau sasa masih terpasang di kakinya sebagai penanda bahwa ia masih calon kerei.

Malam harinya, uma Satoutou mulai dipenuhi kesibukan. Ada yang memasak sagu dan keladi, menyiapkan kebutuhan pesta, serta menghias rumah besar klan.

Dua sikerei lainnya juga hadir, termasuk dari Satoutou dan Teulaubikerei Sakobou yang berperan sebagai sipaumat atau guru. Istri para sikerei turut mengenakan pakaian adat, manai dan manik-manik.

Semua bergerak dalam satu tujuan: menyiapkan kelahiran seorang sikerei baru.

Bagi Amirudin, keputusan menjadi sikerei bukan perkara sederhana. Ia tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Proses tersebut membutuhkan kesiapan diri, keluarga dan lingkungan uma.

Dorongan terbesar datang dari ayahnya, Lalaet Satoutou, yang telah berusia lanjut dan membutuhkan penerus.

“Alasannya karena sudah waktunya saja, ada keluarga yang mabesik (sakit) maka jadi kerei,” ujar Amirudin.

Tetapi dorongan keluarga bukan berarti paksaan. Amirudin menyebut keputusan itu akhirnya lahir dari kesadaran dirinya sendiri.

Sebelum mencapai tahap penobatan, ia menjalani proses belajar dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung sekitar dua bulan, kemudian dilanjutkan sekitar delapan bulan.

Waktu tersebut digunakan untuk mempelajari berbagai pengetahuan yang tidak bisa diperoleh hanya dari membaca atau mendengar cerita.

Ia belajar urai, yakni nyanyian ritual, turuk, cara membuat dan menggunakan perlengkapan sikerei, hingga pengetahuan pengobatan tradisional dan tumbuhan yang digunakan.

Sebagian pengetahuan dipelajari melalui percakapan di uma. Sebagian lainnya harus ditempuh dengan mengikuti guru ke leleu, hutan adat tempat berbagai tumbuhan obat tumbuh.

Di sanalah proses regenerasi pengetahuan berlangsung secara langsung.

Amirudin menjelaskan, calon sikerei tidak cukup hanya menghafal nama tumbuhan. Ia harus mengetahui di mana tanaman tersebut tumbuh, bagaimana mengambilnya, cara meramunya, serta bagaimana menggunakannya.

Pengetahuan itu kemudian diuji dalam kehidupan nyata ketika ada keluarga atau warga yang sakit.

Dengan demikian, menjadi sikerei bukan sekadar mengenakan pakaian adat atau tampil dalam ritual. Ada pengetahuan, tanggung jawab, disiplin, pantangan dan pengabdian sosial yang harus dijalani.

Perjalanan tersebut juga tidak murah.

See also  The Best Gray Paint – How to Choose the Right Shade for Your Walls

Untuk proses belajar menjadi sikerei, sipaumat memperoleh imbalan berupa sebidang lahan sagu, keladi dan dua batang durian. Sementara uma harus menyiapkan kebutuhan berbagai punen, termasuk babi dan ayam.

Untuk punen puncak, babi yang disiapkan bahkan dapat mencapai hampir 100 kilogram.

Hariadi Sabulat, salah seorang sikerei Matotonan yang telah menjalankan perannya sekitar 20 tahun, memahami betul beratnya proses tersebut.

Sebelum menjadi sikerei, Hariadi pernah menjabat sebagai kepala desa. Ia mengaku sempat menolak ketika didorong orang tuanya untuk menjalani jalan tersebut.

“Tiga kali saya tolak. Keempat kalinya baru saya terima,” katanya.

Setelah menjalani kehidupan sebagai sikerei, pandangannya berubah. Ia melihat peran sikerei masih dibutuhkan masyarakat, terutama dalam lingkungan keluarga.

Ketika anak atau cucu sakit, keluarga biasanya lebih dahulu meminta pertolongan sikerei dari lingkungan mereka. Jika belum berhasil, barulah mencari pertolongan lain.

Namun, di balik peran sosial tersebut terdapat persoalan yang jarang terlihat: kehidupan ekonomi sikerei.

Sikerei tidak memiliki penghasilan tetap. Ketika mengikuti lia atau melakukan pengobatan, mereka harus menjalankan berbagai pantangan. Aktivitas di ladang pun dapat terhenti selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Pada saat yang sama, kebutuhan keluarga tetap berjalan. Anak membutuhkan biaya sekolah. Rumah tangga membutuhkan biaya hidup. Ladang tetap harus dikelola.

Lebih dari itu, sikerei memiliki pantangan meminta imbalan ketika mengobati orang. Mereka hanya menerima apabila masyarakat memberikan sesuatu secara sukarela.

Di sinilah tantangan regenerasi menjadi semakin nyata.

Biaya pengangkatan yang besar dapat membuat tidak banyak orang bersedia menempuh proses tersebut. Hariadi memperkirakan biaya tahap awal yang pernah dijalaninya, jika dihitung dalam nilai uang, dapat mencapai sekitar Rp50 juta.

Karena itu, kemunculan sikerei baru bukan sesuatu yang terjadi setiap tahun.

Punen Pulagajat Matotonan tahun ini menjadi penting karena tidak hanya mempertemukan para sikerei yang telah lama menjalankan perannya, tetapi juga membuka jalan bagi generasi penerus.

Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana dan Wakil Bupati Jakop Saguruk bersama jajaran pemerintah daerah hadir dalam rangkaian kegiatan pada 20–21 Agustus. Sejumlah wisatawan lokal dan mancanegara juga turut menyaksikan rangkaian tradisi tersebut.

Dalam pertemuan dengan para sikerei setelah ritual Irik Atei Gougouk, berbagai kebutuhan disampaikan kepada pemerintah.

Di antaranya pembangunan rumah budaya di pusat desa, dukungan terhadap pengangkatan sikerei baru, bantuan pendidikan bagi anak-anak sikerei yang menempuh pendidikan tinggi, serta penghargaan bagi sikerei yang tetap menjalankan pengobatan dan ritual budaya.

Rinto mengatakan pemerintah kabupaten telah mengalokasikan anggaran untuk membantu pengangkatan sikerei pada perayaan tahun ini. Dukungan tersebut, menurutnya, akan dilanjutkan setiap tahun di Matotonan.

Pemerintah juga mempertimbangkan pelaksanaan kegiatan serupa di wilayah lain, termasuk Sakuddei di Siberut Barat Daya, meskipun akses menjadi salah satu kendala.

See also  Misteri Gunung Tajam, Jejak Ulama Pasai Satukan Spiritualitas

“Jadi setiap tahun kita anggarkan biaya pengangkatan sikerei,” ujar Rinto.

Bagi pemerintah daerah, dukungan anggaran tersebut diharapkan dapat mengurangi beban uma. Sebab, mahalnya proses pengangkatan menjadi salah satu faktor yang membuat regenerasi sikerei berjalan lambat.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada uang.

Seorang calon sikerei membutuhkan guru. Ia membutuhkan waktu untuk belajar. Ia harus menjalani pantangan. Ia membutuhkan ruang untuk mempraktikkan pengetahuan. Dan yang tidak kalah penting, ia membutuhkan hutan sebagai tempat belajar mengenai tumbuhan obat.

Karena itu, pelestarian sikerei sesungguhnya berkaitan langsung dengan keberlanjutan pengetahuan masyarakat terhadap alam.

Rinto bahkan menilai keberadaan sikerei merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Mentawai.

“Budaya Mentawai tanpa sikerei itu mati,” ujarnya.

Pandangan tersebut memperlihatkan betapa sentralnya posisi sikerei dalam kehidupan budaya Matotonan. Ritual bukan sekadar seremoni. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai hubungan manusia, alam, keluarga dan komunitas.

Hal itu terlihat dalam rangkaian Punen Pulagajat pada 21–22 Agustus.

Prosesi dimulai dengan Pasagsag, pengambilan bunga dari rumah-rumah dan tamu sebagai simbol menyatukan perbedaan selama lia.

Rangkaian kemudian berlanjut dengan Soggi Katsaila, Aggare Toitet, Lia Gougouk, Irik Atei Gougouk hingga Pasiruruk, ketika para sikerei mengumpulkan daun yang dibutuhkan untuk ritual berikutnya dari hutan adat Matotonan.

Sehari kemudian, rangkaian dilanjutkan dengan Lia Simagre, pemakaian atribut sikerei, Soksok ka Sosorat di tepi sungai, Paeruk Sainak, hingga Turuk Laggai.

Di tengah rangkaian tersebut, batas antara budaya, spiritualitas dan kehidupan sosial masyarakat tampak begitu dekat.

Namun Matotonan juga menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berjalan berhadap-hadapan dengan dunia modern.

Puskesmas Sarereiket membuka pelayanan kesehatan gratis di lokasi kegiatan. Masyarakat dapat memeriksa tekanan darah, gula darah, kolesterol dan kadar asam urat tanpa harus datang langsung ke puskesmas.

Kepala Puskesmas Sarereiket, Malaikat Saibuma, mengatakan layanan tersebut menjadi kesempatan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kegiatan itu didukung Kandui Foundation, terutama dalam penyediaan alat pemeriksaan kesehatan.

Di sisi lain, Puskesmas Sarereiket masih menghadapi keterbatasan, termasuk belum memiliki dokter tetap. Pelayanan sehari-hari banyak ditangani bidan dan perawat, sementara pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut harus dirujuk.

Dalam kondisi seperti itu, Malaikat melihat pengobatan modern dan pengetahuan sikerei tidak harus dipertentangkan.

Keduanya dapat berjalan berdampingan dengan batas yang jelas.

Penyakit atau kondisi yang masih dapat ditangani melalui pengetahuan tradisional dapat memperoleh pelayanan sikerei. Namun penyakit tertentu seperti malaria dan kondisi darurat tetap membutuhkan penanganan medis.

“Tujuannya adalah kesembuhan pasien,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi penting. Pelestarian budaya tidak boleh berarti menutup pintu terhadap ilmu kesehatan modern. Sebaliknya, modernisasi juga tidak semestinya menghapus pengetahuan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

See also  Another Big Apartment Project Slated for Broad Ripple Company

Kuncinya adalah pengetahuan, kehati-hatian dan batas yang jelas.

Di tengah pesta adat yang berlangsung meriah, pesan tersebut semakin terasa ketika ritual sikerei memasuki puncaknya.

Bunyi gajeumak semakin cepat. Kaki para sikerei menghentak lantai uma. Gerakan semakin intens. Beberapa sikerei bergantian jatuh dan tubuh mereka mengejang.

Sejumlah pria berjaga di sisi arena, siap menangkap tubuh yang terjatuh agar tidak terbentur lantai.

Sesaat kemudian tubuh kembali tenang.

Puncak prosesi berlangsung ketika para sikerei menari sambil menginjak bara api secara bergantian.

Bagi penonton, adegan itu mungkin tampak seperti pertunjukan yang luar biasa. Tetapi bagi masyarakat yang menjalaninya, setiap gerak memiliki konteks dan makna yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi.

Di luar arena ritual, kehidupan masyarakat juga bergerak.

Warga membuka stan UMKM, menjual makanan, minuman, produk olahan lokal dan cendera mata. Artinya, Punen Pulagajat tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat.

Inilah wajah budaya yang seharusnya terus dikembangkan: berakar pada tradisi, tetapi mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Matotonan sedang menunjukkan bahwa menjaga sikerei berarti menjaga lebih dari sekadar seorang pelaku ritual.

Yang dijaga adalah pengetahuan.

Yang dijaga adalah bahasa budaya.

Yang dijaga adalah hubungan dengan alam.

Yang dijaga adalah identitas.

Dan yang paling penting, yang dijaga adalah kesinambungan pengetahuan antargenerasi.

Tetapi pekerjaan itu tidak mudah.

Dukungan pemerintah diperlukan, tetapi tidak cukup. Anggaran diperlukan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Regenerasi membutuhkan guru, hutan adat yang terjaga, keluarga yang mendukung, generasi muda yang mau belajar, serta masyarakat yang menghargai pengetahuan lokal.

Karena itu, Punen Pulagajat seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan.

Ia perlu menjadi ruang evaluasi dan gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.

Jika seorang Amirudin telah bersedia melanjutkan jalan ayah dan leluhurnya, maka masyarakat dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab memastikan jalan itu tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Sebab ketika seorang sikerei terakhir berhenti mengajarkan pengetahuannya, yang hilang bukan hanya seorang pelaku ritual.

Bisa jadi, yang ikut hilang adalah satu bagian dari ingatan Mentawai.

Dan dari Matotonan, pesan itu terasa sangat jelas: budaya tidak cukup hanya dipertontonkan. Budaya harus dipelajari, dijalankan, dihormati, dilindungi dan diwariskan.

Amirudin kini melangkah menjadi bagian dari rantai panjang tersebut.

Ia bukan hanya sedang menerima sebuah gelar adat.

Ia sedang menerima tanggung jawab untuk menjaga pengetahuan yang telah melewati banyak generasi.

Dan selama gajeumak masih berbunyi, uma masih menjadi tempat berkumpul, hutan masih menyimpan tumbuhan obat, dan generasi muda masih bersedia belajar, harapan terhadap masa depan sikerei Mentawai masih tetap hidup. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments