HomeBabelMediasi Sunyi di Desa Selingsing ; Menjaga Damai di Tingkat Paling Dasar

Mediasi Sunyi di Desa Selingsing ; Menjaga Damai di Tingkat Paling Dasar

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Di sebuah ruangan sederhana di kantor Desa Selingsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Senin (1/12/2025), sekelompok orang duduk berhadapan. Tidak ada sorotan lampu kamera, tidak ada mikrofon media. Yang terdengar hanya suara pelan, sesekali meninggi, lalu kembali melemah. Di tengah ruangan itu, Bripka Yoan Apriansyah, Bhabinkamtibmas Desa Selingsing, kembali menjalankan salah satu tugas paling sunyi namun paling krusial: memediasi konflik rumah tangga warganya.

Mediasi ini dihadiri Perangkat Desa Selingsing, Babinsa Desa Selingsing, serta kedua belah pihak yang tengah berselisih. Tidak ada seragam mencolok, tidak ada protokol panjang. Hanya manusia yang ingin didengarkan dan memahami.

Di Balik Angka Kasus, Ada Luka yang Jarang Terlihat

Menurut data Polri, konflik rumah tangga merupakan salah satu sumber ketegangan sosial terbesar di tingkat desa. Banyak kasus kecil — cekcok, kesalahpahaman finansial, persoalan keluarga — yang jika tidak diurus dengan benar dapat membesar menjadi konflik terbuka. Namun, banyak pula kasus yang tidak pernah tercatat karena warga merasa takut, malu, atau bingung harus meminta bantuan ke mana.

Di titik inilah kehadiran Bhabinkamtibmas seperti Yoan menjadi penting.

PS Kasi Humas Polres Belitung Timur IPDA Asep Achmadi, seizin Kapolres Belitung Timur AKBP Indra Feri Dalimunthe, membenarkan kejadian tersebut.

“Benar, telah terjadi perselisihan antara kedua belah pihak. Bhabinkamtibmas Desa Selingsing Bripka Yoan Apriansyah memediasi kedua belah pihak terkait permasalahan rumah tangga. Keduanya sepakat berdamai dan menandatangani surat perjanjian damai di kantor desa,” ujarnya.

Namun di balik pernyataan formal itu, ada dinamika sosial yang lebih besar. Mediasi bukan hanya soal duduk bersama dan menandatangani kertas — tetapi tentang membangun kembali jembatan yang retak, menghadirkan ruang aman untuk saling bicara, dan memastikan konflik tidak menjalar menjadi masalah baru.

See also  64 Tahun Khairil Anwar ; Dari Pengabdian Birokrasi Menuju Kepemimpinan Inklusif di Beltim

Pendekatan Humanis ; Damai yang Dibangun dari Komunikasi

Dalam mediasi yang dilakukan Yoan, pola pendekatan yang digunakan konsisten: mendengarkan, memetakan masalah, dan mengajak kedua pihak memahami dampak konflik terhadap keluarga serta lingkungan sekitar.

Model penyelesaian ini sebenarnya adalah salah satu bentuk problem-solving policing, strategi kepolisian modern yang mengutamakan pencegahan, pendekatan personal, serta penyelesaian konflik di hulu.

Bagi desa-desa kecil seperti Selingsing, pendekatan seperti ini lebih efektif dibandingkan proses hukum yang panjang dan sering berakhir dengan luka sosial baru.

“Penyelesaian masalah antar warga sebaiknya dilakukan melalui musyawarah dan mufakat. Dengan cara ini, masalah dapat diselesaikan dan tidak menimbulkan persoalan baru,” jelas IPDA Asep.

Musyawarah — nilai yang sudah diwariskan turun-temurun — masih menjadi pilar utama dalam struktur sosial masyarakat Belitung Timur. Ketika konflik muncul, warga cenderung mencari tokoh terdekat yang mereka percaya. Dalam konteks ini, kehadiran Bhabinkamtibmas sebagai titik tengah menjadi sangat relevan.

Menjaga Desa Tetap Tenang ; Pekerjaan yang Tak Terlihat, Tapi Terasa

Sebagian besar kerja kepolisian di tingkat desa memang tidak kasat mata. Tidak ada pemberitaan besar, tidak ada upacara penghargaan. Namun, setiap konflik rumah tangga yang berhasil diselesaikan secara damai berarti:

  • satu potensi kekerasan bisa dicegah,
  • satu keluarga kembali stabil,
  • satu lingkungan kembali aman,
  • dan satu masalah tidak membesar menjadi kasus hukum.

Bagi warga, keberadaan sosok seperti Yoan memberikan rasa aman yang tidak bisa dihitung dengan angka statistik — rasa aman bahwa ketika masalah muncul, ada yang siap membantu tanpa menghakimi.

Jurnalisme Konstruktif ; Di Mana Letak Nilai Edukatifnya?

Pelajaran penting dari peristiwa ini bukan hanya soal seorang polisi memediasi konflik warganya, tetapi bagaimana model penyelesaian berbasis dialog dapat menjadi solusi jangka panjang untuk stabilitas sosial desa.

See also  Transformasi Humanis Penataan Pedagang Belitung

Dari kasus Selingsing, ada beberapa poin edukatif yang bisa diambil:

1. Konflik kecil tidak boleh dibiarkan membesar

Sebagian besar konflik rumah tangga berawal dari masalah sepele. Ketika tidak ada ruang aman untuk bicara, masalah itu berubah menjadi ketegangan berkepanjangan.

2. Mediasi adalah instrumen penting dalam menjaga keharmonisan desa

Mediasi tidak hanya menyelesaikan pertikaian, tetapi mengembalikan hubungan dan kepercayaan.

3. Kehadiran Bhabinkamtibmas adalah investasi sosial jangka panjang

Mereka tidak hanya penegak hukum, tetapi juga fasilitator sosial, konselor informal, dan penjaga harmoni.

4. Musyawarah adalah nilai yang harus dijaga

Tekanan modern semakin mendorong masyarakat untuk menyelesaikan masalah melalui jalur hukum formal. Namun musyawarah tetap menjadi mekanisme efektif untuk merawat kedekatan sosial.

Damai yang Dibangun dari Ruang Kecil

Mediasi yang dilakukan Bripka Yoan Apriansyah hanyalah satu dari banyak upaya kecil yang dilakukan setiap hari di desa-desa seluruh Indonesia. Namun dari ruang kecil di kantor Desa Selingsing itulah, harmoni sosial dipertahankan.

“Saya berharap setelah mediasi ini, masalah selesai dan tidak menimbulkan persoalan baru,” tutup IPDA Asep.

Pada akhirnya, pembangunan desa bukan hanya soal infrastruktur atau program besar.
Sering kali, pembangunan paling penting justru terjadi dalam ruang hening, ketika dua orang yang sedang berselisih diberi kesempatan untuk kembali memahami.

Damai bukan hanya tujuan — tetapi proses.
Dan di Desa Selingsing, proses itu kembali menemukan jalannya. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments