HomeL'StyleAdat Seni BudayaRianto & Seni Lengger Banyumas di Tengah Stigma dan Zaman Instan

Rianto & Seni Lengger Banyumas di Tengah Stigma dan Zaman Instan

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Hamparan hijau di tepian Sungai Serayu mengalir tenang membelah lanskap pedesaan Banyumas.

Di Dusun Kaliori, Kalibagor, denyut kehidupan terasa lebih lambat, namun justru di situlah sebuah gerakan budaya tumbuh dengan kuat—tidak gaduh, tetapi konsisten.

Di sebuah limasan sederhana berdiri Rianto Dance Studio, ruang hidup yang tak hanya bicara tentang tari, tetapi juga tentang identitas, perlawanan stigma, dan pemberdayaan masyarakat.

Di tempat inilah Rianto, seniman lengger lanang asal Banyumas, merawat warisan leluhur sekaligus membangun masa depan kesenian tradisi dengan cara yang tidak biasa: membumi, terbuka, dan penuh makna.

Sanggar yang Menjadi Ruang Hidup

Didirikan pada 2016, Rianto Dance Studio bukan sekadar tempat latihan tari. Ia tumbuh menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dan lintas gagasan.

Awalnya berdiri di Solo, kemudian dipindahkan ke Banyumas pada 2018, sanggar ini menemukan bentuknya yang lebih utuh ketika kembali ke tanah kelahiran Rianto.

Di dalamnya, anak-anak desa, pelajar seni, hingga masyarakat umum belajar bersama. Tidak ada sekat antara “seniman” dan “orang biasa”. Semua diberi ruang untuk merasakan, memahami, dan menghidupi seni.

Perubahan besar terjadi setelah 2023, ketika Karang Taruna setempat ikut memanfaatkan ruang tersebut. Dari sinilah lahir komunitas Teras Serayu, yang memperluas fungsi sanggar menjadi pusat kegiatan sosial, lingkungan, hingga festival seni berbasis masyarakat.

Sanggar ini pun menjelma menjadi simpul gerakan lokal—tempat ide-ide kecil tumbuh menjadi aksi nyata.

Dari Tanda Biru ke Jalan Hidup

Perjalanan Rianto tidak dimulai dari panggung besar. Ia lahir pada 7 September 1981 dari keluarga sederhana. Sebuah tanda biru di keningnya saat bayi sempat menjadi kekhawatiran ibunya, hingga membawanya ke pertunjukan lengger di Cilacap.

See also  Yuri Kemal Fadlullah Soroti Kekuatan Ikatan Perantau & Pelestarian Budaya Babel

Peristiwa itu, yang bagi sebagian orang mungkin sekadar ritual tradisional, justru menjadi titik awal perjalanan panjang seorang seniman.

Sejak kecil, Rianto menunjukkan ketertarikan kuat pada tari. Ia menari sendiri mengikuti irama radio, menyerap cerita pewayangan, dan perlahan membentuk dunia imajinasinya.

Namun, kecintaan itu tidak datang tanpa harga. Cibiran, ejekan, bahkan perundungan menjadi bagian dari kesehariannya.

Di sinilah keteguhan itu diuji.

Lengger ; Antara Stigma dan Makna

Tari lengger, khususnya lengger lanang—di mana laki-laki menari sebagai perempuan—sering kali disalahpahami. Stigma tentang erotisme, identitas gender, hingga moralitas kerap melekat tanpa pemahaman mendalam.

Rianto tidak menolak realitas itu. Ia justru memilih menjawabnya dengan karya dan penelitian.

Baginya, lengger bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah “darma”—pengabdian hidup.

Setiap gerakan memiliki filosofi. Keweran menggambarkan ikan yang berenang, pilesan menyerupai proses mengolah padi, entrakan menjadi simbol hubungan vertikal manusia dengan semesta, sementara geol merepresentasikan rotasi kosmis.

Ini bukan sekadar estetika. Ini adalah bahasa tubuh yang menyimpan pengetahuan.

Dalam perspektif Rianto, lengger adalah cara manusia berdialog dengan alam, dengan sesama, dan dengan Tuhan.

Melawan Narasi Negatif dengan Praktik Nyata

Alih-alih melawan stigma dengan retorika, Rianto memilih jalur praksis. Ia membuka ruang, mengajak masyarakat terlibat, dan menunjukkan bahwa seni tradisi bisa menjadi alat perubahan sosial.

Festival seperti Bisik Serayu bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi ruang interaksi antara seniman, warga, dan alam.

Pendekatan ini secara perlahan menggeser persepsi. Lengger tidak lagi dilihat semata sebagai hiburan kontroversial, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya makna.

Seni sebagai Jalan Pemberdayaan

Yang menarik, Rianto Dance Studio tidak berhenti pada seni. Ia berkembang menjadi ruang pemberdayaan.

See also  Jejak Peradaban Besi ; Kejayaan Kerajaan Balok yang Terlupakan di Belitung

Melalui Teras Serayu, berbagai program sosial digerakkan—dari edukasi lingkungan hingga penguatan kapasitas pemuda desa.

Seni menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran kolektif. Anak-anak muda tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar berpikir, berkolaborasi, dan berkontribusi.

Dalam konteks desa, ini adalah langkah strategis. Seni menjadi alat untuk mencegah keterasingan generasi muda dari akar budayanya.

Globalisasi dan Tantangan Generasi Muda

Di tengah arus globalisasi, tantangan terbesar bukan lagi akses, melainkan kedalaman. Generasi muda kini mudah mempelajari berbagai tarian, tetapi sering kali terjebak pada permukaan.

Rianto mengingatkan bahwa teknik tanpa pemahaman adalah kosong.

Menari bukan sekadar menghafal gerakan, tetapi menghidupi makna. Tanpa itu, tari kehilangan ruhnya.

Pesan ini menjadi relevan di era digital, di mana segala sesuatu serba cepat dan instan.

Dari Desa ke Dunia

Meski berakar di Banyumas, langkah Rianto tidak berhenti di lokal. Bersama istrinya, Miray Kawashima, ia mendirikan Dewandaru Dance Company di Jepang.

Dari sana, lengger dibawa ke panggung internasional.

Namun, yang menarik, Rianto tidak meninggalkan kampung halamannya. Ia justru kembali, membangun dari desa, dan menjadikan Banyumas sebagai pusat gerakan budaya.

Ini adalah model baru dalam ekosistem seni: global secara jaringan, lokal secara akar.

Filosofi Hidup ; Berdamai dengan Diri

Di balik semua pencapaian, ada satu hal yang menjadi fondasi: berdamai dengan diri sendiri.

Bagi Rianto, proses menjadi seniman adalah perjalanan batin. Tubuh bukan hanya alat ekspresi, tetapi juga ruang refleksi.

Ia percaya bahwa seseorang tidak bisa mendamaikan dunia jika belum berdamai dengan dirinya sendiri.

Filosofi ini sederhana, tetapi dalam.

Relevansi bagi Indonesia

Kisah Rianto bukan hanya cerita individu. Ia adalah cermin bagi Indonesia.

See also  Kubah Berkah ; Kepedulian Bupati Beltim Menginspirasi Semangat Gotong Royong Masyarakat

Di tengah keberagaman budaya, tantangan terbesar adalah menjaga warisan tanpa membekukannya, dan mengembangkan tanpa kehilangan akar.

Model yang dibangun Rianto—menggabungkan seni, komunitas, dan pemberdayaan—bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain.

Seni sebagai Jalan Perubahan

Rianto menunjukkan bahwa seni bukan sekadar ekspresi, tetapi juga alat transformasi.

Dari tepian Sungai Serayu, ia membuktikan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari pusat. Ia bisa tumbuh dari desa, dari sanggar kecil, dari gerakan yang konsisten.

Lengger, yang dulu dipandang sebelah mata, kini menjadi medium dialog budaya.

Dan di balik setiap gerakan, ada pesan yang terus disuarakan: bahwa seni, jika dipahami dengan utuh, mampu mendamaikan—diri, masyarakat, bahkan dunia.

Di tengah dunia yang semakin bising, langkah Rianto justru mengingatkan satu hal penting: perubahan besar sering kali lahir dari ketenangan yang dijaga dengan penuh keyakinan. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments