HomeBabelKesaksian Faisal, Azan di Tengah Laut Saat KM Virgo Transport 8 Terbalik

Kesaksian Faisal, Azan di Tengah Laut Saat KM Virgo Transport 8 Terbalik

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Kisah penyintas KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa menjadi salah satu kesaksian paling menggetarkan dari tragedi pelayaran yang terjadi pada Minggu, 13 September 2026.

Faisal, salah seorang penumpang yang berhasil selamat, mengaku bertahan di bagian atas lambung kapal bersama sejumlah orang ketika kapal rute Surabaya–Banjarmasin itu mengalami kemiringan hebat, kemudian terbalik di sekitar perairan Masalembo.

Dalam situasi ketika pertolongan belum terlihat dan gelombang laut terus menghantam, Faisal mengaku beberapa kali mengumandangkan azan sebelum dirinya terseret arus dan akhirnya mencapai sekoci.

Kesaksian tersebut muncul ketika operasi pencarian dan pertolongan terhadap penumpang KM Virgo Transport 8 masih berlangsung.

Berdasarkan perkembangan yang dilaporkan Reuters pada 17 September 2026, kapal tersebut membawa 243 orang. Sebanyak 108 orang telah diselamatkan, enam orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 129 lainnya masih dalam pencarian.

Kondisi laut yang buruk, arus kuat, serta gelombang tinggi menjadi hambatan utama bagi tim SAR untuk melakukan penyelaman ke bangkai kapal.

Faisal menceritakan bahwa keadaan berubah drastis setelah lewat tengah malam. Kapal mulai miring dan kepanikan terjadi di antara penumpang.

Sebagian penumpang memilih melompat ke laut, sedangkan Faisal berusaha mengikuti kemiringan kapal hingga berada di bagian atas lambung yang sudah terbalik.

Ia mengatakan masih melihat orang-orang meminta pertolongan, tetapi dirinya sendiri berada dalam kondisi yang sama-sama membutuhkan penyelamatan.

Dalam situasi tersebut, Faisal menyebut dirinya bersama 13 orang lainnya berusaha bertahan. Mereka terombang-ambing menghadapi laut yang disebut memiliki gelombang sekitar empat meter.

Salah satu laporan lokal menyebut Faisal dan kelompoknya bertahan di atas lambung kapal sejak sekitar pukul 00.30 hingga 04.30 WIB.

Di tengah ketidakpastian itu, Faisal mengaku mengumandangkan azan. Baginya, azan menjadi bentuk ikhtiar sekaligus kepasrahan ketika pilihan untuk meminta pertolongan semakin terbatas.

See also  Dari As Salam 2 ke Cahaya Darussalam, Jejak Epik Masjid Agung Manggar

Setelah azan, ia terbawa arus dan gelombang hingga kemudian mencapai sekoci. Kisah tersebut menjadi bagian dari kesaksian penyintas yang memperlihatkan bagaimana manusia berusaha bertahan ketika menghadapi situasi yang mengancam nyawa.

Kesaksian Faisal juga memunculkan pertanyaan penting mengenai sistem peringatan darurat di kapal. Ia mengatakan tidak mendengar alarm yang membangunkan penumpang ketika kapal mulai miring.

Pernyataan itu merupakan kesaksian pribadi dan belum dapat dianggap sebagai kesimpulan mengenai penyebab banyaknya korban. Pemerintah dan pihak terkait masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui rangkaian kejadian secara menyeluruh.

Dari sisi kronologi, KM Virgo Transport 8 sebelumnya berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin.

Kapal kemudian mengalami kondisi listing di perairan Masalembo sebelum kehilangan kontak. Informasi awal menyebut kapal menghadapi cuaca buruk dan gelombang besar.

Tim SAR selanjutnya mengerahkan kapal, pesawat, helikopter, serta personel penyelamat untuk mencari para penumpang.

Secara historis, Virgo Transport 8 bukan kapal baru. Kapal tersebut dibangun di Jepang pada 1987 dan memiliki usia sekitar 39 tahun pada saat kecelakaan.

Sebelum beroperasi di Indonesia, kapal tersebut tercatat melayani pelayaran di Jepang dan mulai menggunakan nama Virgo Transport 8 setelah beroperasi di Indonesia pada 2026.

Data yang dihimpun detik menyebut kapal tersebut merupakan jenis passenger/ro-ro cargo ship, yang dirancang mengangkut penumpang sekaligus kendaraan.

Namun, usia kapal tidak dapat serta-merta dijadikan penyebab kecelakaan. KSOP Tanjung Perak menyatakan sertifikat keselamatan kapal masih berlaku dan prosedur kelaiklautan sebelum keberangkatan telah dipenuhi.

Di sisi lain, pemeriksaan terhadap nakhoda dan data pelayaran dilakukan untuk membantu proses investigasi. Karena penyebab resmi kecelakaan masih dalam penyelidikan, setiap dugaan harus ditempatkan sebagai informasi awal, bukan kesimpulan akhir.

Pakar hidrodinamika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, menyoroti aspek seakeeping, yakni kemampuan kapal mempertahankan performa dan stabilitas ketika menghadapi kondisi laut.

See also  Strategi Cerdas Belitung, Sulap Festival Olahraga Jadi Mesin Pertumbuhan Daerah

Menurutnya, kesesuaian desain kapal dengan karakteristik perairan tempat kapal beroperasi merupakan aspek penting dalam keselamatan. Pandangan akademik tersebut menjadi masukan teknis, bukan penetapan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8.

Di tengah proses investigasi teknis tersebut, perhatian publik tetap tertuju kepada para korban dan keluarga mereka.

Di Banjarmasin, keluarga penumpang mendatangi posko untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan pencarian. Ketidakpastian selama berhari-hari menjadi beban emosional bagi keluarga yang masih menunggu kabar orang-orang yang mereka cintai.

Media internasional juga melaporkan kegelisahan keluarga korban yang berharap operasi pencarian terus diperluas.

Pada 17 September, tim penyelamat bahkan menyiapkan rencana untuk membalik posisi kapal guna membantu pencarian di sekitar bangkai kapal.

Reuters melaporkan bangkai kapal berada pada kedalaman sekitar 29 meter dan telah bergeser sekitar 450 meter. Upaya penyelaman sebelumnya terkendala arus yang sangat kuat, sehingga keselamatan penyelam menjadi pertimbangan utama.

Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi laut tidak hanya bergantung pada kondisi kapal, tetapi juga cuaca, karakteristik perairan, kesiapan awak, sistem peringatan darurat, prosedur evakuasi, perlengkapan keselamatan, serta kemampuan penumpang memahami tindakan penyelamatan diri.

Karena itu, evaluasi menyeluruh diperlukan agar tragedi serupa dapat dicegah.

Kisah Faisal tentang azan di tengah kepungan laut memiliki makna personal dan spiritual bagi dirinya. Namun, secara jurnalistik, keselamatannya tidak dapat dipastikan sebagai akibat langsung dari azan atau tindakan tertentu secara kausal.

Yang dapat disampaikan berdasarkan kesaksiannya adalah bahwa azan menjadi bagian dari ikhtiar dan kepasrahan yang ia lakukan ketika berada dalam situasi kritis.

Di tengah tragedi tersebut, harapan masih menjadi bagian penting dari operasi SAR.

Setiap korban yang berhasil ditemukan merupakan kabar berharga bagi keluarga. Setiap penyintas membawa kesaksian yang dapat membantu memahami apa yang terjadi pada malam nahas itu.

See also  Investigasi Pengoplosan Gas Subsidi ; Dilema Ekonomi & Dampak

Kisah Faisal pada akhirnya bukan hanya tentang seseorang yang selamat dari ganasnya Laut Jawa.

Kesaksiannya juga mengingatkan bahwa dalam keadaan darurat, manusia membutuhkan keberanian untuk bertahan, ketenangan untuk mengambil keputusan, serta sistem keselamatan yang mampu bekerja cepat ketika keadaan berubah dalam hitungan menit.

Bagi keluarga korban yang masih menunggu, doa dan harapan terus dipanjatkan. Bagi mereka yang telah meninggal dunia, masyarakat berharap mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Sementara bagi para penyintas seperti Faisal, keselamatan yang mereka alami menjadi kesaksian hidup dari sebuah perjalanan laut yang berubah menjadi perjuangan antara kepanikan, ikhtiar, doa, dan harapan. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments