HomeRagamKapten Guerriero dan Pelayaran Terakhir Garibaldi Menuju Indonesia

Kapten Guerriero dan Pelayaran Terakhir Garibaldi Menuju Indonesia

BabelEkspress.COm | JSCgroupmedia ~ Pelayaran lintas benua kapal ITS Giuseppe Garibaldi (C551) dari Taranto, Italia, menuju Indonesia pada 24 Agustus 2026 menjadi perjalanan penutup bagi Kapten Marco Guerriero sebagai komandan kapal tersebut sekaligus menandai berakhirnya lebih dari empat dekade perjalanan Garibaldi di bawah bendera Italia.

Dalam pelayaran menuju Jakarta, Guerriero memimpin awak campuran Marina Militare Italia dan TNI Angkatan Laut, dengan kapal singgah di Safaga, Mesir, serta Colombo, Sri Lanka, sebelum memasuki perairan Indonesia dan tiba di Tanjung Priok pada 18 September 2026.

Kepergian Garibaldi dari Taranto bukan sekadar perpindahan sebuah kapal perang dari satu negara ke negara lain.

Bagi Italia, keberangkatan itu menjadi penutup sebuah babak panjang dalam sejarah kapal yang selama puluhan tahun menjadi salah satu simbol kekuatan penerbangan lautnya.

Bagi Indonesia, pelayaran tersebut menjadi tahap penting menuju pengoperasian kapal yang diproyeksikan sebagai kapal induk pertama dalam sejarah TNI AL.

Di Taranto, 24 Agustus 2026, suasana perpisahan berlangsung khidmat. Bendera Italia diturunkan untuk terakhir kalinya dari kapal yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan maritim kota tersebut selama lebih dari 40 tahun.

Upacara itu dihadiri Kepala Staf Angkatan Laut Italia dan Kapten Marco Guerriero sebagai komandan terakhir Garibaldi. Setelah prosesi penghormatan selesai, tali tambat dilepaskan dan kapal meninggalkan Stasiun Angkatan Laut Chiapparo menuju Indonesia.

Bagi Guerriero, momentum tersebut memiliki makna tersendiri. Ia bukan hanya menjadi perwira yang mengantarkan sebuah kapal ke tempat tugas berikutnya, tetapi juga tercatat sebagai komandan terakhir Garibaldi di bawah Marina Militare Italia.

Setelah lebih dari empat dekade mengabdi kepada Italia, kapal itu meninggalkan negeri asalnya untuk memasuki babak baru di Asia Tenggara.

Pelayaran menuju Indonesia ditempuh melalui jalur maritim yang panjang. Garibaldi melintasi kawasan Mediterania, Terusan Suez, Laut Merah, kemudian memasuki jalur Samudra Hindia sebelum menuju Asia Tenggara.

Dalam perjalanan tersebut, kapal melakukan pemberhentian logistik, termasuk di Safaga, Mesir, dan Colombo, Sri Lanka. Sumber pertahanan internasional mencatat bahwa kapal berlayar dengan awak campuran Italia-Indonesia di bawah komando Guerriero.

Persinggahan di Colombo juga terkonfirmasi oleh Angkatan Laut Sri Lanka. ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Pelabuhan Colombo pada 9 September untuk kebutuhan pengisian ulang logistik dan layanan.

See also  Watch Awesome Kate Go Full Cooking Pro in England this Week

Kapten Marco Guerriero kemudian melakukan kunjungan kehormatan kepada Komandan Western Naval Area Sri Lanka. Kapal meninggalkan Colombo pada 12 September dan melanjutkan perjalanan menuju Indonesia.

Catatan mengenai rute ini sekaligus memperjelas informasi awal mengenai pelayaran Garibaldi. Sejumlah laporan menyebut beberapa titik persinggahan, sementara keterangan resmi TNI AL menyatakan selama perjalanan kapal juga melakukan persinggahan di sejumlah negara, termasuk Mesir, Arab Saudi dan Sri Lanka.

Dengan demikian, Safaga dan Colombo merupakan dua titik yang dapat dikonfirmasi secara khusus dari sumber terkait, sementara rute keseluruhan mencakup jalur lintas kawasan yang lebih panjang.

Pelayaran itu juga berlangsung dalam suasana kerja sama antara dua angkatan laut. Sebelum memasuki perairan Indonesia, Garibaldi berada dalam pengawalan unsur Angkatan Laut Italia pada sebagian perjalanan.

Setelah memasuki wilayah Indonesia, pengawalan beralih kepada unsur TNI AL. Dua kapal perang Indonesia, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, mengawal Garibaldi menuju Jakarta.

Kehadiran personel TNI AL dalam pelayaran menjadi bagian penting dari proses transisi. Indonesia tidak sekadar menerima sebuah kapal, tetapi juga harus memahami karakteristik sistem, prosedur operasi dan kemampuan kapal yang sebelumnya digunakan Marina Militare.

Karena itu, keberadaan personel kedua negara dalam satu pelayaran memiliki dimensi teknis sekaligus pendidikan bagi proses alih kemampuan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6.870 mil laut, Garibaldi akhirnya tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat, 18 September 2026.

Kementerian Pertahanan menyebut perjalanan dari Taranto berlangsung sejak 24 Agustus, melewati Terusan Suez, Laut Merah dan Samudra Hindia sebelum memasuki Indonesia melalui ALKI I.

Kedatangan tersebut disambut pejabat tinggi pemerintah dan TNI. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kemudian meninjau langsung kondisi kapal bersama Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali dan sejumlah pejabat lainnya.

Dalam peninjauan itu, Kapten Marco Guerriero juga mendampingi rombongan.

Ada sebuah ironi sejarah yang menarik. Kapal yang dahulu menjadi salah satu simbol kekuatan laut Italia kini tiba di Indonesia setelah perjalanan terakhirnya di bawah komando perwira Italia. Namun, perjalanan tersebut tidak berarti seluruh sejarah Garibaldi berakhir. Sebaliknya, sejarah kapal memasuki fase baru dengan lingkungan operasi, kebutuhan strategis dan identitas nasional yang berbeda.

See also  Dari Angin Mengamuk hingga Banjir, Saatnya Cerdas Hadapi Bencana!

Garibaldi memiliki panjang sekitar 180,2 meter, lebar 33,4 meter dan bobot sekitar 13.850 ton.

TNI AL menyebut kapal tersebut mampu membawa lebih dari 10 hingga 18 helikopter kelas menengah atau berat, drone serta menampung hingga sekitar 830 personel gabungan.

Sistem penggeraknya menggunakan konfigurasi COGAG dengan empat turbin gas General Electric/Avio LM2500.

Namun, kemampuan teknis tersebut tidak serta-merta berarti seluruh kapasitas kapal langsung digunakan secara penuh setelah kedatangan.

Indonesia masih harus menyesuaikan kapal dengan kebutuhan organisasi, sistem operasi, fasilitas pendukung dan doktrin TNI AL. Karena itu, kedatangan di Tanjung Priok merupakan tonggak awal, bukan akhir dari proses integrasi.

Kementerian Pertahanan menyatakan hasil peninjauan awal menunjukkan kondisi fisik dan sistem kapal sangat baik untuk dioptimalkan, terutama dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti penanggulangan bencana alam dan distribusi bantuan ke wilayah terpencil.

Kapal juga memiliki kemampuan mendukung operasi udara dari geladak penerbangan dan dapat mengangkut sejumlah helikopter.

Dimensi kemanusiaan ini menjadi salah satu aspek penting dalam membaca kedatangan Garibaldi. Indonesia merupakan negara kepulauan yang menghadapi berbagai risiko bencana, mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan hingga gangguan distribusi logistik akibat kondisi geografis.

Kapal berukuran besar dengan kemampuan membawa helikopter dapat menjadi salah satu platform pendukung mobilitas dalam situasi darurat, sepanjang didukung kesiapan personel, fasilitas dan anggaran operasional.

Dalam perspektif pertahanan, keberadaan kapal semacam itu juga menambah pilihan kemampuan TNI AL dalam melaksanakan operasi laut dan udara.

Namun, efektivitasnya pada akhirnya bergantung pada bagaimana Indonesia membangun ekosistem pendukungnya. Kapal besar membutuhkan biaya pemeliharaan, awak terlatih, fasilitas sandar, suku cadang, sistem penerbangan serta latihan berkelanjutan.

Karena itu, proses setelah kedatangan Garibaldi layak mendapat perhatian publik secara proporsional. Pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka tahapan integrasi kapal, kebutuhan modernisasi, biaya pemeliharaan dan tujuan penggunaannya.

Transparansi tersebut penting agar masyarakat memahami bukan hanya simbol kebanggaan dari kedatangan sebuah kapal besar, tetapi juga konsekuensi teknis dan anggaran yang menyertainya.

Sementara itu, dari sisi Italia, perjalanan Garibaldi ke Indonesia menutup karier panjang sebuah kapal yang telah menjadi bagian dari sejarah Marina Militare.

See also  Guru Honorer Karawang Gugat APBN 2026, MK Ubah Skema Anggaran MBG

Kapal tersebut telah digunakan dalam sejumlah operasi internasional dan sebelumnya menjadi salah satu kapal utama Italia.

Media Italia mencatat bahwa Garibaldi telah menjalani perjalanan panjang sejak masuk dinas pada pertengahan 1980-an sebelum akhirnya dilepas menuju Indonesia.

Bagi masyarakat Taranto, perpisahan itu juga membawa dimensi emosional. Media lokal menggambarkan Garibaldi bukan hanya sebagai kapal militer, melainkan bagian dari lanskap kota dan memori masyarakat selama puluhan tahun.

Ketika kapal meninggalkan Mar Grande, yang berakhir bukan sekadar sebuah masa dinas, tetapi juga hubungan simbolik antara sebuah kapal dan kota yang menjadi pangkalannya selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, Indonesia menyambut kapal tersebut dengan narasi yang berbeda. Garibaldi ditempatkan sebagai bagian dari upaya penguatan dan modernisasi sistem pertahanan maritim.

TNI AL menyatakan kedatangannya memperkuat Sistem Senjata Armada Terpadu sekaligus membuka kemampuan baru dalam mendukung operasi pertahanan maupun OMSP.

Dalam perjalanan itu, sosok Marco Guerriero menjadi penghubung antara dua babak sejarah.

Ia membawa Garibaldi keluar dari Taranto sebagai komandan terakhirnya, kemudian mengantarkannya melewati sejumlah pelabuhan dan kawasan laut hingga tiba di Jakarta.

Pada akhirnya, kata “Arrivederci”—selamat tinggal dalam bahasa Italia yang juga bermakna “sampai jumpa lagi”—menjadi ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perjalanan tersebut.

Guerriero meninggalkan Garibaldi bukan karena kapal itu berhenti berlayar, melainkan karena kapal tersebut justru akan melanjutkan kehidupannya di bawah bendera yang berbeda.

Dari Taranto menuju Jakarta, Garibaldi membawa lebih dari sekadar baja, mesin dan geladak penerbangan. Ia membawa sejarah panjang Marina Militare, pengalaman awak Italia, proses pembelajaran bersama TNI AL dan harapan baru bagi Indonesia.

Kini, setelah tiba di Jakarta, perjalanan berikutnya bukan lagi tentang menyeberangi laut dari Eropa menuju Asia.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana Indonesia mengubah kedatangan kapal tersebut menjadi kemampuan yang benar-benar terukur, aman, berkelanjutan dan bermanfaat bagi kepentingan pertahanan serta kemanusiaan.

Bagi Kapten Marco Guerriero, pelayaran itu adalah perjalanan terakhir bersama Garibaldi. Bagi Indonesia, pelayaran yang sama merupakan awal dari sebuah babak baru. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments