HomeGeoParkPulau Kumala Kukar : Mampukah Waterpark Menghidupkan Ikon Wisata?

Pulau Kumala Kukar : Mampukah Waterpark Menghidupkan Ikon Wisata?

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kembali berupaya menghidupkan Pulau Kumala di Tenggarong setelah destinasi wisata yang pernah menjadi salah satu ikon daerah itu mengalami penurunan aktivitas dan kunjungan.

Upaya dilakukan melalui pembangunan waterboom, penataan kembali fasilitas lama, pengembangan konsep wisata edukasi dan budaya, penguatan UMKM, serta pembukaan peluang investasi swasta.

Langkah tersebut diarahkan untuk mengembalikan daya tarik Pulau Kumala sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di kawasan wisata.

Pulau Kumala merupakan kawasan wisata di tengah Sungai Mahakam yang mulai dikembangkan pada awal 2000-an. Destinasi seluas sekitar 80 hektare itu pernah dirancang sebagai kawasan rekreasi modern yang memadukan alam, budaya dan wahana hiburan.

Sejumlah fasilitas pernah menjadi magnet wisatawan, antara lain kereta gantung, kereta api mini, gokart, komedi putar, bumper car, jet coaster dan Sky Tower yang menjadi salah satu ikon kawasan tersebut.

Dokumen peluang investasi Pemkab Kukar juga mencatat bahwa wahana seperti Bombom Car, Gokart dan Komedi Putar dahulu menjadi daya tarik utama, tetapi kini membutuhkan perbaikan dan perawatan.

Pada masa kejayaannya, Pulau Kumala mampu mencatat ratusan ribu kunjungan dalam setahun.

Data pemerintah daerah yang bersumber dari BPS Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukkan jumlah pengunjung mencapai 377.597 orang pada 2016, kemudian meningkat menjadi 389.243 orang pada 2017.

Setelah itu, angka tersebut turun menjadi 287.595 orang pada 2018 dan 174.036 orang pada 2019. Pandemi kemudian memperparah penurunan, dengan jumlah kunjungan yang tercatat hanya 37.861 orang pada 2020.

Penurunan tersebut bukan sekadar persoalan angka statistik.

Penelitian Muhammad Fikri Apriansyah dari Universitas Mulawarman mengenai pengaruh kerusakan sarana wisata di Pulau Kumala menemukan adanya keterkaitan antara kerusakan sejumlah fasilitas dengan perubahan jumlah pengunjung dan pemasukan destinasi.

Penelitian itu mencatat bahwa sejumlah wahana seperti Sky Tower, cable car, gokart, bumper car dan jet coaster mengalami kerusakan hingga kawasan wisata sempat kehilangan daya tariknya.

Kajian akademik lain yang terbit pada 2026 bahkan menempatkan persoalan Pulau Kumala dalam kerangka yang lebih luas.

Wahyuda, Suci Ramadhani dan Sigit Hadi Laksono dalam jurnal arsitektur mengenai perencanaan kawasan wisata budaya Pulau Kumala menilai pengelolaan kawasan tersebut belum optimal.

Mereka mengusulkan pengembangan yang menempatkan budaya lokal, alam, infrastruktur dan keberlanjutan sebagai bagian dari perencanaan destinasi.

Fakta itu memperlihatkan bahwa persoalan Pulau Kumala tidak semata-mata karena kurangnya wahana baru.

Persoalannya juga berkaitan dengan bagaimana fasilitas dipelihara, bagaimana pengalaman wisatawan dibangun, bagaimana kawasan dipromosikan, serta bagaimana masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas wisata.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara kini mencoba mengambil momentum baru tersebut. Salah satu proyek yang diandalkan adalah pembangunan waterboom yang mulai dikerjakan secara bertahap sejak 2023.

See also  Mobile Marketing is Said to Be the Future of E-Commerce

Pada Agustus 2025, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin menyatakan pembangunan waterboom ditargetkan selesai pada 2026. Fasilitas tersebut dirancang mencakup kolam ombak, kolam arus, kolam anak, kolam dewasa dan area permainan air.

Namun, proyek tersebut juga menghadapi persoalan pendanaan.

Pada Juni 2026, Dinas Pariwisata Kukar menyebut progres fisik waterboom telah mencapai sekitar 80 persen, tetapi pekerjaan lanjutan belum dapat dilakukan karena menunggu ketersediaan anggaran dan transfer pemerintah pusat.

Untuk penyelesaian pekerjaan, Dispar Kukar mengalokasikan sekitar Rp4,2 miliar pada 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi Pulau Kumala bukan pekerjaan sederhana.

Pembangunan fisik membutuhkan anggaran, sedangkan setelah selesai fasilitas tersebut membutuhkan biaya operasional, pemeliharaan, tenaga profesional dan strategi bisnis agar tidak kembali menjadi aset yang minim pemanfaatan.

Pemerintah daerah sendiri tampaknya mulai mengubah pendekatan. Bupati Kukar Aulia Rahman Basri pada Juli 2025 mengajak investor lokal dan nasional ikut mengembangkan Pulau Kumala.

Ia menyebut penambahan fasilitas perlu dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dan swasta. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pengembangan lapangan golf bertaraf internasional, selain penguatan UMKM dan akses menuju kawasan pulau.

Sebulan kemudian, konsep investasi tersebut diperjelas. Pemkab Kukar menggagas pembagian Pulau Kumala dalam beberapa zona, antara lain kawasan komersial, kawasan pelestarian lingkungan dan satwa, serta zona UMKM.

Konsep tersebut diarahkan agar pengembangan ekonomi tidak sepenuhnya menghilangkan karakter alami pulau.

Pendekatan berbasis zona menjadi penting karena Pulau Kumala memiliki keunggulan yang tidak mudah ditemukan di destinasi wisata buatan lainnya.

Pulau tersebut berada di tengah Sungai Mahakam, berdekatan dengan pusat Kota Tenggarong, memiliki panorama sungai, ruang terbuka, unsur budaya Kutai dan Dayak, serta berbagai bangunan ikonik.

Dengan kata lain, kekuatan Pulau Kumala sebenarnya bukan hanya pada wahana permainan. Lanskap sungai dan posisi geografisnya merupakan aset wisata yang tidak dapat dipindahkan atau ditiru begitu saja.

Pada awal 2025, tanda-tanda bahwa Pulau Kumala masih memiliki pasar wisata juga terlihat.

Selama periode libur Idulfitri 2025, lebih dari 3.700 orang tercatat mengunjungi kawasan tersebut dalam rentang 31 Maret hingga 7 April. Data lain yang dikutip media lokal mencatat 3.791 kunjungan pada periode libur Lebaran.

Saat libur Natal dan Tahun Baru 2025, Koordinator Lapangan Pulau Kumala juga menyebut kunjungan harian dapat mencapai ratusan hingga ribuan orang pada puncak liburan.

Pengunjung tidak hanya berasal dari Tenggarong, tetapi juga dari sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.

Data tersebut memberikan gambaran penting: Pulau Kumala belum kehilangan seluruh daya tariknya.

Ketika momentum liburan, cuaca mendukung dan masyarakat memiliki waktu untuk berekreasi, kawasan itu masih mampu menarik pengunjung dalam jumlah besar.

See also  Mengabdi Tanpa Henti ; Inspirasi Kepemimpinan Wakapolda Babel di Usia Pengabdian yang Bertambah

Tantangannya adalah bagaimana menjadikan kunjungan musiman tersebut sebagai aktivitas wisata yang berlangsung secara konsisten sepanjang tahun.

Di sinilah keberadaan waterboom harus ditempatkan secara proporsional. Pemerintah Kukar memang berharap wahana tersebut menjadi magnet baru.

Rendi Solihin menyebut waterboom sebagai salah satu daya tarik utama yang diharapkan mampu menjadikan Pulau Kumala kembali sebagai pusat wisata keluarga.

Tetapi penambahan wahana saja belum otomatis menjamin keberhasilan destinasi.

Pengalaman Pulau Kumala sendiri memberikan pelajaran. Pada masa lalu, kawasan tersebut telah memiliki banyak fasilitas modern, namun sejumlah fasilitas kemudian mengalami kerusakan dan tidak beroperasi.

Kajian akademik bahkan mencatat bahwa persoalan fasilitas dan pengelolaan ikut berhubungan dengan turunnya jumlah wisatawan.

Karena itu, waterboom seharusnya menjadi bagian dari ekosistem wisata yang lebih besar, bukan satu-satunya jawaban.

Pulau Kumala membutuhkan agenda yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk datang kembali. Wisata budaya dapat dikembangkan melalui cerita sejarah Kerajaan Kutai, seni tradisional, rumah adat dan interpretasi budaya lokal.

Wisata edukasi dapat diarahkan pada lingkungan Sungai Mahakam, flora-fauna Kalimantan dan ekosistem sungai. Sementara kegiatan keluarga dapat diperkuat melalui ruang bermain, kuliner lokal, olahraga, pertunjukan dan agenda komunitas.

Konsep tersebut sejalan dengan rencana Dinas Pariwisata Kukar yang sejak 2025 mulai mengarahkan Pulau Kumala sebagai destinasi rekreasi sekaligus edukasi.

Pemerintah daerah juga menyebut kawasan tersebut akan dikembangkan secara bertahap agar tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi memiliki fungsi edukatif dan ruang pelestarian keanekaragaman hayati.

Persoalan lain yang tidak boleh dilupakan adalah UMKM.

Ketika pengunjung turun, pedagang menjadi kelompok yang langsung merasakan dampaknya.

Sebaliknya, ketika kunjungan meningkat, keberadaan pedagang kuliner, suvenir, jasa transportasi dan pelaku usaha lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus menciptakan perputaran ekonomi.

Pemkab Kukar telah menyatakan akan memperkuat UMKM yang berusaha di Pulau Kumala. Bupati Aulia Rahman Basri menyebut produk yang dijual perlu ditingkatkan kualitasnya dan pelaku usahanya didorong menjadi lebih profesional.

Langkah ini penting karena keberhasilan destinasi wisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah tiket yang terjual atau besarnya retribusi daerah. Dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar juga harus menjadi salah satu indikator.

Promosi juga menjadi pekerjaan besar. Pada 2025, Bupati Kukar menegaskan bahwa pembangunan fasilitas perlu diikuti promosi melalui berbagai platform.

Menurutnya, objek wisata yang tidak dipromosikan akan sulit dikenal lebih luas. Pemerintah daerah juga mendorong kegiatan budaya sebagai instrumen untuk menarik wisatawan.

Di era digital, promosi tersebut dapat dikembangkan jauh lebih kreatif.

Pulau Kumala memiliki banyak bahan cerita: Sungai Mahakam, sejarah Kutai, Lembuswana, budaya Dayak, panorama Tenggarong, wisata keluarga, kuliner lokal dan pengalaman menaiki wahana air.

See also  Menyatukan Hati & Pembangunan ; Safari Ramadan Hadirkan Berkah di Masjid At-Taqwa

Semua dapat dikemas dalam narasi digital yang konsisten tanpa harus mengubah identitas asli kawasan.

Aspek keamanan dan kenyamanan juga harus menjadi prioritas.

Pengunjung membutuhkan toilet yang bersih, tempat makan yang layak, jalur pedestrian yang aman, penerangan memadai, informasi wisata yang jelas, akses transportasi yang mudah, fasilitas bagi penyandang disabilitas serta sistem keselamatan yang ketat untuk setiap wahana.

Anggota DPRD Kalimantan Timur Salehuddin sebelumnya juga menyoroti bahwa revitalisasi Pulau Kumala tidak cukup berhenti pada pembangunan waterboom. Menurutnya, wahana lama, fasilitas pendukung dan keamanan kawasan juga perlu diperhatikan.

Masukan tersebut relevan untuk menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah.

Pulau Kumala pernah memiliki masa ketika namanya begitu kuat di benak masyarakat Kalimantan Timur. Data 2016 dan 2017 menunjukkan bahwa ratusan ribu wisatawan pernah datang.

Bahkan pada libur Lebaran 2016, ANTARA mencatat rata-rata kunjungan mencapai sekitar 7.500 orang per hari.

Kini, tantangannya bukan sekadar mengembalikan angka tersebut.

Yang jauh lebih penting adalah membangun model pengelolaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Pulau Kumala tidak membutuhkan perlombaan membangun sebanyak mungkin wahana.

Ia membutuhkan konsep yang jelas, pengelolaan profesional, pemeliharaan berkelanjutan, promosi yang konsisten, keterlibatan masyarakat dan investasi yang dihitung berdasarkan kebutuhan pasar.

Waterboom dapat menjadi pintu masuk kebangkitan. Tetapi pintu tersebut hanya akan berarti jika di baliknya tersedia pengalaman wisata yang lengkap.

Bila pemerintah berhasil menggabungkan wisata rekreasi, budaya, edukasi, alam, kuliner dan UMKM dalam satu pengalaman yang terintegrasi, Pulau Kumala memiliki peluang untuk kembali menjadi destinasi penting di Tenggarong.

Sebaliknya, jika pembangunan hanya berorientasi pada penambahan bangunan tanpa memperbaiki sistem pengelolaan, promosi, pemeliharaan dan kualitas pengalaman wisatawan, risiko mengulang siklus lama tetap ada.

Pulau Kumala karena itu sedang menghadapi pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar kapan waterboom dibuka.

Pertanyaannya adalah apakah kawasan yang pernah menjadi kebanggaan Kutai Kartanegara tersebut mampu bertransformasi dari taman rekreasi lama menjadi destinasi wisata modern yang berakar pada budaya, lingkungan dan ekonomi masyarakat.

Jawabannya tidak akan ditentukan oleh satu wahana.

Jawabannya akan terlihat dari konsistensi pemerintah mengelola aset, keseriusan investor, kreativitas pelaku wisata, keterlibatan masyarakat dan kemampuan menghadirkan alasan baru bagi wisatawan untuk datang—bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Dengan posisi strategis di tengah Sungai Mahakam dan sejarah panjangnya sebagai ikon wisata Tenggarong, Pulau Kumala masih memiliki modal penting untuk bangkit.

Kini pekerjaan terbesarnya adalah memastikan modal tersebut dikelola secara profesional, inovatif dan berkelanjutan agar tidak kembali menjadi sekadar kenangan tentang destinasi yang pernah ramai. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments