HomeL'StyleAdat Seni BudayaMakan Bedulang di Perantauan, Tradisi Melayu Belitong Hidup di Jakarta

Makan Bedulang di Perantauan, Tradisi Melayu Belitong Hidup di Jakarta

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sebuah tradisi dari kampung halaman kembali dihidupkan dengan penuh makna.

Beberapa waktu lalu, Gedung Serba Guna Senayan, Jakarta, dipenuhi kehangatan budaya dalam acara Halal Bihalal & Festival Makan Bedulang yang digelar oleh Ikatan Keluarga Masyarakat Belitung (IKMB).

Sekitar 1.200 orang hadir dalam kegiatan tersebut. Bukan sekadar temu kangen perantau, tetapi juga momentum merawat identitas—melalui satu tradisi yang sarat nilai: makan bedulang.

Bedulang ; Lebih dari Sekadar Makan Bersama

“Makan Bedulang” adalah tradisi makan bersama khas masyarakat Melayu Belitung yang biasanya hadir dalam kenduri, pesta adat, atau acara penting lainnya. Namun, bedulang bukan sekadar makan bersama. Ia adalah simbol kebersamaan, kesetaraan, dan tata krama yang diwariskan lintas generasi.

Dalam praktiknya, penyajian makanan dilakukan menggunakan dulang—nampan besar yang menjadi pusat hidangan. Di atas dulang, tersaji sekitar tujuh jenis lauk dalam piring kecil, lengkap dengan mangkuk sup berisi gulai daging atau ayam di bagian tengah.

Berbeda dengan tradisi makan ala Timur Tengah seperti nasi kebuli atau biryani yang disantap langsung dari dulang, dalam bedulang nasi disajikan terpisah. Empat orang duduk mengelilingi satu dulang, masing-masing mengambil nasi dari wadah khusus dan lauk dari piring kecil yang tersedia.

Di luar dulang, terdapat empat pinggan besar sebagai wadah pribadi. Sistem ini mencerminkan perpaduan antara kebersamaan dan keteraturan—setiap orang berbagi, tetapi tetap menjaga etika makan.

Adaptasi di Perantauan ; Tradisi yang Fleksibel

Dalam tradisi aslinya di Pulau Belitung, makan bedulang dilakukan di lantai, di atas tikar pandan atau permadani. Posisi duduk melingkar menciptakan suasana akrab dan egaliter.

Namun, dalam acara di Jakarta, ada sedikit penyesuaian. Dulang tidak lagi diletakkan di lantai, melainkan di atas meja. Perubahan ini bukan penghilangan nilai, melainkan bentuk adaptasi terhadap konteks ruang dan kenyamanan peserta.

See also  Jejak Peradaban Besi ; Kejayaan Kerajaan Balok yang Terlupakan di Belitung

Di sinilah terlihat kekuatan tradisi: mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Nilai kebersamaan, penghormatan, dan rasa syukur tetap terjaga, meski bentuk penyajiannya menyesuaikan zaman.

Jejak Sejarah ; Persilangan Budaya dan Agama

Tradisi makan bedulang diperkirakan berkembang seiring masuknya ajaran Islam ke dalam masyarakat Melayu Belitung. Pengaruh budaya Timur Tengah terlihat dari konsep makan bersama dalam satu wadah.

Namun, masyarakat lokal tidak menyalin begitu saja. Mereka mengolah dan menyesuaikan dengan budaya setempat. Lahirlah bedulang—tradisi yang memadukan nilai Islam dengan kearifan lokal Melayu.

Perubahan dari satu dulang nasi menjadi sistem piring dan pinggan mencerminkan adaptasi tersebut. Ini bukan sekadar teknis, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat Melayu menjaga identitas sambil tetap terbuka terhadap pengaruh luar.

Kerinduan yang Terbayar

Bagi banyak perantau Belitung di Jakarta, acara ini bukan sekadar festival budaya. Ia adalah ruang nostalgia. Sebuah jembatan emosional yang menghubungkan masa kini dengan kenangan masa lalu.

Salah satu tokoh yang hadir bersama istrinya, Rika Kato Mahendra, mengungkapkan bahwa kehadiran mereka dalam acara ini bukan tanpa alasan. Mereka sengaja meluangkan waktu untuk merasakan kembali suasana kampung halaman.

“Tradisi ini mengingatkan kami pada akar budaya yang tidak pernah hilang,” menjadi kesan yang menguat dalam suasana penuh kehangatan tersebut.

Panitia menyediakan sekitar 300 dulang untuk melayani peserta. Sebuah angka yang tidak kecil, mengingat kompleksitas dalam persiapan dan penyajian. Namun, semangat gotong royong menjadi kunci keberhasilan acara ini.

“Tak Melayu Hilang di Dunia”

Ungkapan legendaris dari Hang Tuah, “Tak Melayu hilang di dunia,” terasa hidup dalam acara ini. Di tengah modernitas Jakarta, identitas Melayu tetap bertahan—tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai praktik nyata.

See also  Beltim Kejar Swasti Saba Wiwerda, Siapkah Jadi Kabupaten Sehat?

Bagi generasi yang telah puluhan tahun merantau, seperti banyak anggota IKMB, tradisi ini menjadi pengikat identitas. Meski telah lama tinggal di kota besar, nilai-nilai kampung halaman tetap melekat di hati.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya bukan hanya soal tempat, tetapi soal ingatan dan praktik yang terus dijaga.

Dampak Sosial dan Budaya

Acara seperti ini memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar pertemuan komunitas. Ia menjadi ruang edukasi bagi generasi muda yang mungkin tidak lagi akrab dengan tradisi bedulang.

Anak-anak dan remaja yang hadir dapat melihat langsung bagaimana tradisi ini dijalankan. Mereka belajar tentang tata cara, nilai, dan makna yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, acara ini juga memperkuat solidaritas sosial. Dalam suasana yang penuh keakraban, sekat-sekat sosial menjadi cair. Semua duduk bersama, makan bersama, dan berbagi cerita.

Tantangan Pelestarian Tradisi

Di tengah arus globalisasi, menjaga tradisi seperti makan bedulang bukanlah hal mudah. Perubahan gaya hidup, keterbatasan ruang, dan minimnya dokumentasi menjadi tantangan tersendiri.

Namun, inisiatif seperti yang dilakukan IKMB menunjukkan bahwa pelestarian budaya tetap bisa dilakukan, bahkan di tengah kota metropolitan.

Kuncinya adalah kemauan dan kesadaran kolektif. Tradisi tidak akan hilang jika terus dipraktikkan dan diwariskan.

Media dan Peran Narasi Budaya

Pemberitaan tentang tradisi lokal memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan dan pemahaman publik. Media tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga penjaga memori kolektif.

Dengan pendekatan yang sensitif dan edukatif, media dapat membantu mengangkat nilai-nilai budaya ke ruang publik yang lebih luas.

Cerita tentang makan bedulang bukan hanya milik Belitung, tetapi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang layak dikenal dan dihargai.

See also  Dj Dark - Autumn Vibes (September 2019)

Dari Meja ke Makna

Meski disajikan di atas meja, bukan di lantai seperti tradisi aslinya, esensi makan bedulang tetap terasa. Kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur menjadi inti yang tidak berubah.

Dalam setiap suapan, ada cerita. Dalam setiap dulang, ada nilai. Dan dalam setiap pertemuan, ada harapan bahwa tradisi ini akan terus hidup.

Menjaga yang Mengikat

Festival Makan Bedulang di Jakarta bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah pernyataan bahwa budaya lokal memiliki tempat, bahkan di tengah modernitas.

Dari Pulau Belitung ke Jakarta, tradisi ini menempuh perjalanan panjang—melintasi jarak, waktu, dan generasi.

Namun, satu hal yang tetap: semangat untuk menjaga yang mengikat. Karena dalam dunia yang terus berubah, identitas adalah jangkar yang menjaga kita tetap berpijak.

Dan selama masih ada yang duduk bersama di satu dulang, selama itu pula “Melayu” tidak akan pernah hilang. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments