HomeBabelBenteng Tanjong Gunong, Jejak Awal Lahirnya Tanjungpandan

Benteng Tanjong Gunong, Jejak Awal Lahirnya Tanjungpandan

BabelEkspress.Com | JSCgroupmedia ~ Sejarah berdirinya Kota Tanjungpandan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Benteng Tanjong Gunong, sebuah benteng pertahanan yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada 1824 di muara Sungai Cerucuk, Pulau Belitung.

Benteng yang kini hanya menyisakan jejak struktur tersebut menjadi titik awal lahirnya pusat pemerintahan dan permukiman yang kemudian berkembang menjadi ibu kota Kabupaten Belitung.

Relokasi benteng dari Tanjong Simba ke Tanjong Gunong dilakukan karena pertimbangan strategis pertahanan dan pelayaran, sekaligus menjadi fondasi penting dalam perkembangan wilayah Belitung pada abad ke-19.

Keberadaan Benteng Tanjong Gunong merupakan bagian penting dari sejarah kolonial di Pulau Belitung.

Sebelum berdiri di lokasi yang kini menjadi pusat Kota Tanjungpandan, pemerintah kolonial terlebih dahulu membangun benteng di kawasan Tanjong Simba. Namun, lokasi tersebut dinilai kurang ideal untuk kepentingan militer maupun pengawasan wilayah.

Dalam catatan sejarah yang ditulis pejabat kolonial Hindia Belanda, Sevenhoven, benteng pertama yang dibangun Kapten Motte memiliki bentuk persegi dengan lebar sekitar 160 kaki atau setara 48 meter.

Benteng itu berdiri tidak jauh dari tepian sungai, tetapi berada di lokasi yang dinilai kurang menguntungkan secara strategis.

Sevenhoven menilai posisi benteng di Tanjong Simba menyulitkan pengawasan wilayah karena sungainya relatif sempit dan dikelilingi hutan lebat.

Menurutnya, Kapten Motte saat itu terpengaruh oleh saran Depati setempat yang mendorong pembangunan benteng di lokasi tersebut.

Akibatnya, benteng justru berada pada posisi yang mudah dipantau dari luar dan kurang efektif sebagai sarana pertahanan.

Ketika kelemahan tersebut disadari, situasi sudah terlambat untuk diperbaiki tanpa melakukan pemindahan lokasi secara menyeluruh.

Kesadaran akan pentingnya lokasi yang lebih strategis mendorong Pemerintah Hindia Belanda mengambil langkah besar.

Pada 24 November 1824, melalui besluit Pemerintah Nomor 19, diputuskan pemindahan benteng dari Tanjong Simba ke Tanjong Gunong dengan alokasi anggaran sebesar 20.000 Gulden.

Pemindahan itu berlangsung pada masa pemerintahan Asisten Residen Belitung, J.W. Bierschel.

Pembangunan benteng baru dimulai pada 1824 dan mulai difungsikan pada tahun 1825 sebagai pusat pertahanan sekaligus pengawasan lalu lintas laut di wilayah Belitung.

Meski keputusan resmi baru diambil pada 1824, gagasan relokasi sebenarnya telah lebih dahulu disampaikan Sevenhoven pada 1823.

Ia melihat Tanjong Gunong sebagai lokasi yang jauh lebih ideal karena berada di muara Sungai Cerucuk dengan karakter geografis yang mendukung kepentingan militer.

Bukit Tanjong Gunong saat itu memiliki ketinggian antara 65 hingga 100 kaki atau sekitar 19,5 hingga 30 meter. Posisinya memungkinkan pengawasan luas ke arah laut maupun daratan.

Selain itu, perairan di sekitar muara Sungai Cerucuk relatif tenang sehingga dapat melindungi kapal-kapal yang berlabuh dari ancaman cuaca maupun serangan.

Keunggulan inilah yang menjadikan kawasan tersebut dipilih sebagai pusat pertahanan baru. Sebelum pembangunan benteng dilakukan, kawasan bukit masih dipenuhi pepohonan dan semak belukar.

Sebagian area kemudian diratakan untuk kepentingan konstruksi sehingga ketinggian bukit berkurang menjadi sekitar 50 kaki atau 18 meter.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan benteng tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas militer. Kawasan di sekitarnya mulai berkembang menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan permukiman masyarakat.

Perkembangan itu semakin kuat setelah Pemerintah Hindia Belanda mengakui kedudukan Depati Rahad sebagai Kepala Belitung pada 1 Juli 1838.

Pengakuan tersebut membawa perubahan penting dalam tata pemerintahan Pulau Belitung.

Melalui instruksi lanjutan yang diterbitkan pada 11 Oktober 1838, pemerintah kolonial menetapkan Tanjong Gunong sebagai tempat kediaman resmi Depati Rahad.

Keputusan tersebut sekaligus mempertegas posisi kawasan itu sebagai pusat administrasi dan pemerintahan Pulau Belitung.

Dalam salah satu poin instruksi pemerintah disebutkan bahwa Depati Rahad wajib menetap di Tanjong Gunong dan menjaga benteng yang berada di kawasan tersebut dalam kondisi baik.

Benteng itu saat itu juga menjadi lokasi penempatan detasemen militer Belanda.

Penetapan Tanjong Gunong sebagai pusat pemerintahan menjadi tonggak penting dalam sejarah Belitung. Dari kawasan inilah cikal bakal Kota Tanjungpandan mulai terbentuk dan berkembang secara bertahap.

Peta situasi muara Sungai Cerucuk yang dibuat pada 1824 memperlihatkan gambaran awal wilayah yang kini menjadi pusat Kota Tanjungpandan.

Sebagian besar kawasan masih berupa hutan, sementara permukiman penduduk tampak terkonsentrasi di sekitar Bukit Tanjong Gunong.

Selain di sekitar benteng, sejumlah permukiman juga terlihat berada di kawasan muara Sungai Cerucuk, sisi kanan sungai, serta sepanjang Sungai Siburik ke arah hulu.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat saat itu masih sangat bergantung pada jalur perairan sebagai sarana transportasi utama.

Peran Sungai Cerucuk menjadi sangat penting dalam perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat Belitung.

Sungai tersebut menjadi jalur utama distribusi barang, mobilitas penduduk, serta akses menuju kawasan pedalaman.

Keberadaan benteng di titik strategis membuat kawasan Tanjong Gunong berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain di sekitarnya.

Aktivitas militer, pemerintahan, perdagangan, dan permukiman kemudian saling mendukung pertumbuhan kawasan tersebut.

Dalam perkembangan sejarah berikutnya, benteng ini lebih dikenal masyarakat dengan nama Benteng Kuhn.

Nama tersebut diambil dari Kapten Kuhn, komandan militer pertama yang menempati benteng setelah relokasi ke Tanjong Gunong.

Namun sejumlah sejarawan menilai penyebutan Benteng Kuhn tidak ditemukan dalam dokumen resmi sejarah kolonial.

Dalam berbagai arsip, benteng tersebut lebih sering disebut sebagai Benteng atau Benting di Tanjong Gunong.

Karena itu, penamaan yang dianggap lebih sesuai dengan konteks sejarah adalah Benteng Tanjong Gunong, sesuai lokasi geografis tempat bangunan tersebut berdiri.

Meski pernah menjadi pusat pertahanan penting di Belitung, kondisi benteng mulai mengalami kerusakan sejak pertengahan abad ke-19.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada 1851 sebagian besar struktur bangunan telah mengalami penurunan kualitas.

Dinding benteng terbuat dari kayu yang disusun membentuk palisade atau pagar pertahanan berupa tonggak-tonggak runcing.

Sementara bagian bastion, yakni sudut pertahanan tempat meriam ditempatkan, dibangun menggunakan material batu.

Seiring berjalannya waktu, struktur kayu tersebut lapuk dan hilang. Hingga kini hampir tidak ada lagi bagian fisik benteng yang tersisa di lokasi.

Sejumlah peneliti menduga sisa bangunan benteng menghilang secara bertahap pada pertengahan abad ke-20, terutama setelah masa kemerdekaan Indonesia ketika kawasan tersebut mengalami berbagai perubahan fungsi.

Meski demikian, jejak sejarah kawasan Tanjong Gunong masih dapat ditemukan.

Salah satunya adalah bangunan Mess Dian yang pernah digunakan sementara sebagai kantor Bupati Belitung pada 1971 saat kantor pemerintahan utama sedang direnovasi.

Keberadaan Mess Dian menjadi salah satu penanda penting yang menghubungkan masa kolonial dengan perkembangan pemerintahan modern di Belitung.

Para pemerhati sejarah menilai hilangnya bangunan fisik benteng tidak berarti nilai sejarahnya ikut hilang. Sebaliknya, kawasan tersebut tetap memiliki arti penting sebagai saksi perkembangan awal pemerintahan dan tata ruang Pulau Belitung.

Dari perspektif pelestarian budaya, Benteng Tanjong Gunong kini lebih tepat dikategorikan sebagai struktur cagar budaya dibanding bangunan cagar budaya.

Sebab, yang masih tersisa bukan lagi bangunan utuh, melainkan bentang alam, struktur bukit, serta kemungkinan pondasi bastion yang masih terkubur di dalam tanah.

Pelestarian kawasan bersejarah seperti Tanjong Gunong menjadi penting karena memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai perjalanan panjang terbentuknya daerah mereka.

Jejak sejarah tersebut juga dapat menjadi sumber edukasi sekaligus potensi pengembangan wisata sejarah yang bernilai tinggi.

Di tengah pesatnya pembangunan perkotaan, keberadaan situs bersejarah menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak lahir secara instan.

Tanjungpandan yang kini berkembang sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan pariwisata Belitung memiliki akar sejarah panjang yang berawal dari sebuah benteng di atas bukit yang menghadap muara Sungai Cerucuk.

Benteng Tanjong Gunong mungkin telah hilang secara fisik, tetapi perannya dalam membentuk wajah Belitung modern tetap tercatat kuat dalam sejarah.

Dari bukit yang dahulu dipilih karena pertimbangan strategi pertahanan itu, lahir pusat pemerintahan yang kemudian berkembang menjadi Kota Tanjungpandan.

Jejaknya menjadi warisan berharga yang tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas sejarah sebagai fondasi pembangunan daerah di masa depan. | BabelEkspress.Com | */Redaksi | *** |

Sumber ; Wahyu Kurniawan | Belitong Tempoe Doeloe & */Berbagai Sumber

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments